TANGGAMUS (Lampost.co) -- Dalam rangka mendorong upaya konservasi harimau Sumatera (panthera tigris sumatrae) di wilayah Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Sumatran Tiger Project GEF-UNDP menggelar pelatihan kepada para insan media, perguruan tinggi, forum harimau dan pemerintah provinsi serta kabupaten di Gisting, Tanggamus, Kamis (15/4/2018).

Pelaksana kegiatan advokasi harimau Sumatera, Veri Iwan Setiawan, mengatakan pihaknya sengaja menggelar pelatihan advokasi ini adalah untuk meningkatkan pemahaman, keterampilan advokasi, kampanye, dan komunikasi para pemangku kepentingan terhadap upaya konservasi harimau Sumatera.



Kepala TNBBS Agus Wahyudiono mengatakan dalam perkembangan zaman, spesies Harimau Sumatera jumlahnya terus berkurang karena adanya konflik dengan manusia.

Ia mengharapkan para pemangku terkait konservasi harimau Sumatera konsen atas permasalahan ini guna menyelamatkan dan memberi perlindungan harimau Sumatera dari kepunahan.

"Yang harus kita tekankan adalah harimau ini adalah milik kita bersama. Saya harap nanti masyarakat akan paham bagaimana keberlangsungan hidup harimau Sumatera kedepan. Paradigma mitos-mitos mengenai harimau Sumatera harus dihilangkan, seperti kumis harimau yang katanya untuk obat kuat tapi secara teori tidak ada faktanya. Kuku harimau, dan kulitnya yang juga jadi incaran para pemburu. Itu harus dihilangkan," kata dia.

Firdaus R. Affandi dari aktivis harimau Sumatera dalam pemaparan materinya menambahkan satu hal yang menyebabkan dampak negatif dengan Harimau yaitu informasi yang berlebihan yang tersiar kepada masyarakat sehingga membuat image negatif harimau semakin meningkat.

"Apalagi ditambah pemberitaan media yang membuat dan menyebar berita heboh dengan judul-judul yang membuat persepsi masyarakat akan hewan Harimau semakin buruk. Disinilah peran media dituntut untuk memberikan informasi yang tidak membuat image harimau Sumatera semakin buruk dimata masyarakat," kata dia.

Ia mengatakan untuk menghindari meningkatnya konflik manusia dan harimau, dibutuhkan pemahaman lebih kepada masyarakat melalui kampanye yang baik. Agar sudut pandang masyarakat terhadap harimau Sumatera akan membaik.

Menurutnya, sebagai manusia yang memiliki akal ketimbang harimau Sumatera sebagai hewan, manusia harus bisa mengelola inovasi untuk bisa hidup berdampingan dengan harimau, khususnya masyarakat di daerah yang menjadi lingkup wilayah harimau Sumatera. Bukan hanya bisa menyalahkan harimau Sumatera atas konflik yang terjadi, karena manusia sendiri yang merambah habitat harimau.

Harimau Sumatera. Dok. Kementerian LHK

Populasi Harimau Sumatera terus Terancam

Dari data analisis populasi terbaru Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di 2017, populasi harimau Sumatera ( panthera tigris sumatrae) saat ini kurang dari 700 ekor.

Populasi terus terancam oleh berbagai faktor seperti konflik dengan manusia, perburuan liar, alihguna lahan, deforestasi, dan lainnya. Tercatat 1065 kasus konflik antara manusia dan harimau di pulau Sumatera dari 2001-2016.

Adapun jenis konflik diantaranya harimau berkeliaran di lokasi aktivitas manusia ada 375 kasus, harimau menyerang ternak 376 kasus, harimau menyerang manusia 184 kasus, harimau terbunuh 130 kasus.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR