BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Bulan Oktober diperingati sebagai Bulan Bahasa. Lahirnya Bulan Bahasa erat kaitannya dengan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Lantas apa makna di balik Bulan Bahasa, bagaimana seharusnya sebagai bangsa Indonesia menjaga dan menjunjung tinggi bahasa Indonesia. Berikut kutipan wawancara wartawan Lampung Post Nur Jannah dengan Kepala Balai Bahasa Provinsi Lampung Yanti Iswara di kantor setempat, Senin (16/10/2017).

Apa makna Bulan Bahasa serta apa latar belakang peringatannya yang jatuh setiap Oktober?



Istilah Bulan Bahasa muncul untuk memperingati diikrarkannya Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928, sebelum kemerdekaan. Itu merupakan salah satu langkah yang dilakukan oleh putra-putri yang ada di wilayah Nusantara ini sebagai upaya untuk mencapai kemerdekaan. Sampailah pada kesepakatan untuk mengikat persatuan karena saat itu terdiri dari berbagai suku dan beragam bahasa. Nah untuk menjembatani hal itu, diputuskan mengangkat bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia.
Secara filosofi bahasa Indonesia adalah nama bahasa secara politis. Mengapa bahasa Melayu yang digunakan sebagai bahasa Indonesia bukan bahasa Jawa, padahal bahasa Jawa penuturnya lebih banyak. Bahasa Melayu sudah dipakai sebagai bahasa perdagangan di pasar dari barat sampai timur, bahkan sampai sekarang daerah timur, seperti Maluku, Papua, Ambon, dan Ternate, masih menggunakan bahasa Melayu untuk percakapan sehari-hari guna menghubungkan dengan orang yang berbeda bahasa.
Dipilihlah bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia. Alasan lain juga bahasa Melayu sudah memiliki tata bahasa. Ada Kamus Tata Bahasa yang disusun oleh Raja Ali Haji dari Riau, juga ada Buku dan Kamus Bahasa Melayu.
Jadi adanya dasar itu, dibuatlah bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia. Hal itulah yang menjadi filosofi bahasa sebagai pemersatu bangsa. Kemudian bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia diikrarkan pada 28 Oktober saat Kongres Bahasa II di Jakarta, sejak saat itulah bulan Oktober dideklarasikan sebagai Bulan Bahasa.

Seberapa penting Bulan Bahasa dan bagaimana menyosialisasikan kepada masyarakat, seperti kita ketahui saat ini banyak masyarakat yang tidak tahu tentang Bulan Bahasa?

Generasi saat ini tentu saja sudah terlampau cukup jauh, dari 1928 sampai saat ini sudah 89 tahun yang lalu. Artinya generasi sekarang, khususnya anak muda usia 25 tahun ke bawah, sudah jauh berlalu dan tidak paham apa itu Sumpah Pemuda, kenapa ada Sumpah Pemuda. Jika tidak tahu sejarah, kita juga tidak bisa memahami apa itu Sumpah Pemuda. Padahal Sumpah Pemuda merupakan salah satu upaya anak bangsa untuk mencapai kemerdekaan.
Kemerdekaan sebelumnya diperjuangkan terpisah-pisah di daerah, tetapi tidak memberikan hasil. Lalu muncul pemikiran dari pemuda bangsa ini untuk menyatukan dan harus bersatu. Jika ratusan tahun sebelumnya perjuangan dilakukan per kelompok tidak berhasil, dengan adanya pemikiran tersebut, untuk menyatukan Nusantara diikrarkannya Sumpah Pemuda.
Nah butir ke tiga Sumpah Pemuda, "Kami putra dan putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia" inilah yang sering salah dipahami. Butir ketiga adalah butir pemersatu, bukan menggantikan yang lain, artinya menjunjung tinggi bahasa Indonesia, memelihara bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing.
Oleh karena itu, Bulan Bahasa sangat erat kaitannya dengan Sumpah Pemuda. Sebagai generasi muda harus tahu dan mengembangkan apa arti kebangsaan. Kita jangan cuma tahu merdeka saat ini. Namun juga harus tahu bagaimana pejuang berjuang untuk mencapai kemerdekaan. Banyak yang tidak tahu, dari itu harus menggali sejarah. Bahasa adalah salah satu identitas bangsa yang dikukuhkan di Undang-Undang Dasar 1945.
Kekuatan bahasa sangat erat, ini diikrarkan di Sumpah Pemuda dan menjadi salah satu yang penting dan dikukuhkan UUD dan juga diatur masalah penggunaan bahasa, yaitu pada UU No.24 Tahun 2009. Ada dasar politis yang harus diketahui, sebagai warga negara yang baik dengan menjunjung tinggi bahasa persatuan.
Orang bermain-main dengan Pancasila akan terkena masalah hukum. Kemudian orang main-main dengan bahasa dianggap sepele, padahal itu tidak boleh dan sudah diatur UU. Bahasa Indonesia tidak bisa dipelesetkan karena berarti merendahkan harga diri bahasa Indonesia. Sebab itu simbol atau identitas bangsa.

Lalu bagaimana dengan kondisi saat ini banyak bahasa Indonesia yang dipelesetkan, seperti bahasa gaul dan semacamnya?

Ada beberapa fenomena saat ini di kalangan anak muda atau kelompok tertentu, seperti salah satunya preman yang memiliki bahasa sendiri. Itu sebabnya bahasa Indonesia dipelesetkan agar orang lain tidak paham.
Tujuan bahasa dipelesetkan oleh kalangan tertentu untuk menandai kelompok mereka. Misalnya, mahal dipelesetkan jadi mehong. Itu di satu sisi bagus untuk menunjukkan identitas mereka dan kreatif, tetapi dari sisi bahasa justru merendahkan bahasa Indonesia.
Jalan yang bisa kita lakukan adalah mengetahui di mana kita boleh memakai bahasa itu. Memosisikan diri bijak dalam penggunaanya karena kita bisa melarang, tetapi harus bijak.
Ranah penggunaan bahasa yang diatur dalam UU No.24/2009 salah satunya ada bahasa pendidikan, bahasa pengetahuan, lembaga pemerintahan, di situ dijelaskan harus menggunakan bahasa Indonesia yang benar. Jika sesama kelompoknya, misalnya, sesama remaja silakan, asal tidak semua tempat.
Kita tidak melarang tetapi harus tahu ranah penggunaanya. Bahasa itu dari zaman ke zaman akan berubah, hilang dan muncul baru lagi. Sedangkan di dalam rumah tangga justru disarankan menggunakan bahasa daerah. Sebab bahasa daerah harus tetap lestari.

Adakah sosialisasi terkait dengan Bulan Bahasa sehingga masyarakat paham?

Sosialisasi khusus tidak ada, tetapi kami dari Balai Bahasa maupun Badan Bahasa, setiap Oktober melakukan aktivitas berkenaan dengan kebahasaan, seperti lomba bahasa, festival bahasa, seminar, baik siaran di televisi maupun radio, kami menyampaikan tentang Bulan Bahasa. Kita harus menjunjung tinggi bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing. Ketiga bahasa itu harus dikuasai sebagai pintu dunia.

Lalu, bagaimana dengan fenomena masyarakat saat ini yang sudah mulai meninggalkan bahasa daerah. Dalam lingkup terkecil rumah tangga mereka menggunakan bahasa Indonesia bahkan bahasa asing untuk percakapan sehari-hari?

Itulah salahnya kita dalam memahami tentang bahasa Indonesia, bahasa asing, dan bahasa daerah. Anak-anak dari kecil sudah diajarkan bahasa Indonesia sehingga tidak tahu lagi bahasa daerah. Padahal identitas sebagai warga daerah harus menguasai bahasa daerahnya. Misalnya orang Lampung identitas dirinya ya bahasa Lampung, harus bisa bahasa Lampung. Bagi orang Indonesia harus tahu tempat kapan harus berbahasa asing, bahasa Indonesia, dan bahasa daerah, semua ada porsi masing-masing. 

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR