MEKANISME alam sering bekerja dengan caranya sendiri. Segala sesuatu yang terjadi hari ini tidak datang tiba-tiba, tetapi merupakan hasil dari serangkaian proses di masa lalu.

Demikian pula segala sesuatu yang akan terjadi di masa mendatang tidak terlepas dari proses yang sedang berlangsung hari ini dan sebelumnya. Pun segala sikap, perilaku, dan tindakan manusia akan membawa dampak di masa-masa berikutnya.



Dalam bahasa lugas, hukum alam yang bekerja. Kalau berbuat baik, kelak akan memetik hasil yang baik pula. Tetapi, kalau berbuat yang tidak baik, kelak akan mendapat musibah atau apa yang disebut dengan kualat.

Ajaran tentang kualat boleh jadi cukup efektif mengendalikan sikap manusia agar selalu berbuat baik kepada semua makhluk Tuhan. Tetapi, nilai-nilai kemanusiaan tentang pemahaman kualat selalu ditinggalkan ketika manusia sedang kalap. Situasi kalap itulah yang terjadi setahun terakhir selama kampanye pemilihan presiden. Bukan hanya kalap, lebih dari itu: kalap massal.

Awalnya, kalap massal itu diciptakan para elite politik dengan berbagai cara agitasi dan propaganda. Fitnah dan caci maki didesain dan disemburkan politisi melalui media sosial. Terus dan terus disemburkan setiap hari meskipun fakta yang disodorkan bertentangan dengan nalar sehat. Publik dicekoki kabar bohong (hoaks), penghinaan, dan pelecehan sampai benar-benar mabuk kebencian dan tidak lagi takut akan kualat.

Logika waras publik sungguh diperkosa demi menyemai kebencian massal. Ada elite politik yang begitu tega menyebut pemimpin sebagai bebek lumpuh, raja utang, tukang bohong, antek asing, kriminalisasi ulama, antiagama, otoriter, dan menyebut seperti firaun. Ada petinggi partai politik yang mengklaim parpolnya berada di pihak Tuhan sembari menuding parpol lain sebagai parpol setan.

Ada bahkan elite yang dalam pidato politiknya mengeluarkan ucapan, "Endasmu!". Itu bahasa yang sangat kasar. Kata "endas" lebih cocok untuk menyebut kepala binatang. Untuk manusia, lazimnya dipakai kata "sirah" atau kalau mau lebih halus "mustaka." Pengucapan kata "endas" dalam acara pidato politik jelas secara sadar dipilih untuk membakar kebencian massa.

Ruang publik kita juga semakin pengap dijejali hoaks. Semisal tentang tujuh kontainer surat suara yang sudah tercoblos dan rencana melarang azan. Lebih parah lagi, seorang pemimpin dituduh keturunan parpol terlarang dan si pemimpin tersebut diminta tes DNA untuk membuktikan bahwa tuduhan tersebut salah. Belum cukup sampai di situ, ada yang menyebar hoaks ratusan penyelenggara pemilu meninggal karena sengaja diracun.

Kini, aroma kompetisi yang sering membuat mual itu mulai mereda meskipun masih tetap saja terasa. Kelompok elite politik yang kalah mulai merapat ke pemenang, ibarat meludahi piring sendiri. Tetapi, tampaknya upaya rekonsiliasi justru ditentang massa yang dulu mereka cekoki dengan agitasi dan propaganda. Jika kelak ada koalisi yang kesulitan sumber dana karena tetap memilih sebagai oposisi, boleh jadi itu sebagai bentuk kualat.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR