KETIKA Ramadan tiba dan tatkala Idulfitri semakin mendekat, sebagian dari kita justru kian sibuk mengumpulkan “amunisi” kebutuhan dapur hingga segala pernak-pernik berhari raya. Dari takjil hingga baju baru hari raya.

Ramadan membawa berkah, begitu kata Pak Ustaz, termasuk berkah ekonomi bagi sebagian masyarakat. Mereka yang punya insting berdagang tentu tidak akan melewatkan kesempatan selama Ramadan dan meningkatnya konsumsi masyarakat.



Ramadan nyatanya mengubah pola konsumsi masyarakat. Itu mengapa volume permintaan terhadap bahan pokok melonjak sedemikian rupa selama bulan puasa. Hukum ekonomi pun berlaku. Harga sembako terkerek naik gila-gilaan.

Bank Indonesia pernah meriset pola inflasi selama Ramadan hinga Lebaran tahun 2011—2014. Hasil penelitian BI memang menunjukkan laju inflasi semakin kencang selama Ramadan. Pemicunya terutama karena inflasi pada harga pangan yang disumbang oleh beras, daging-dagingan, dan bumbu dapur.

Para ibu yang berbelanja ke pasar mulai merasakan dompet mereka tak lagi setebal biasanya, padahal jatah uang belanja bulanan mereka tak berkurang. Begitulah, Ramadan menjadi paradoks yang terus-menerus berulang. Dikatakan demikian karena budaya konsumtif malah “menggila” di tengah taman religius Ramadan.

Paradoks itu tergambar jelas manakala harga-harga menjadi naik ketika Ramadan. Sebagian pengamat menandakan fenomena ini sebagai inflasi “R” alias inflasi Ramadan. Berbagai pakar ekonomi menilai inflasi R masuk kategori inflasi yang berpangkal dari lonjakan permintaan di kurun waktu tertentu tanpa peningkatan penawaran memadai.

Inflasi R cermin limbungnya keseimbangan pasar. Harga barang yang melambung memicu turunnya nilai mata uang. Proses ini terjadi secara bertahap dan terus-menerus hingga saling memengaruhi harga barang yang satu dengan yang lain. Sayang, menghadapi inflasi R kita hanya bergulat pada pendekatan ekonomi semata agar sisi suplai tetap aman terkendali.

Sepatutnya pendekatan religius jadi hal utama. Amat jelas bergoyangnya keseimbangan pasar saat Ramadan lantaran budaya konsumsi yang justru bertambah bahkan berlebihan. Baginda Rasulullah saw menyunahkan umatnya berbuka cukup tiga kurma saja. Ini menyiratkan setelah menahan nafsu, kita pun tetap mengetatkan ikat pinggang usai azan berkumandang.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR