SEBAIK-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Demikianlah prinsip yang melatarbelakangi Komunitas Sahabat Sedekah (KSS) Lampung yang terbentuk sejak April 2016 dan tetap eksis hingga kini.

Founder Komunitas Sahabat Sedekah, Dyah Etika Widayana Sari, mengungkapkan pada dasarnya kegiatan KSS dilakukan sejak 2010. Misalnya, keliling panti asuhan maupun mengajak anak yatim piatu bermain bersama atau mancakrida (outbound) sederhana yang bernilai edukasi. Contohnya cara membangun kerja sama dalam satu tim (team building).



"Setelah itu, sejak April 2016, saya mengajak beberapa teman untuk membuat nama atau identitas komunitas dengan nama Komunitas Sahabat Sedekah yang bertujuan supaya segala kegiatan berbagi atau sedekah menjadi syiar kebaikan," kata Dyah, yang juga alumnus SMAN 9 Bandar Lampung.

Sesuai namanya, komunitas ini diharapkan bisa membantu siapa saja. Hingga kini KSS telah memiliki ratusan anggota dan terus konsisten dengan berbagai kegiatan sosial, pendidikan, lingkungan, maupun kesehatan.

"Kami ingin menjadi sahabat siapa pun membantu baik materi, tenaga, maupun ilmu, serta kemampuan yang kami miliki. Kami mulai dari menyisihkan sebagian rezeki dari teman-teman secara ikhlas atau berjualan kaus dan keuntungannya untuk bersedekah."

Dyah menjelaskan keinginan membentuk KSS karena kesibukannya sebagai perempuan pekerja. Dia ingin menjadi insan berguna bagi lembaga dan keluarga serta bermanfaat bagi sesama yang kelak menjadi bekal di akhirat.

"Awalnya kami hanya berlima dengan kegiatan menjual kaus. Saya mengajak teman kantor maupun teman di luar kantor untuk membeli sekalian sedekah," ujarnya.

 

Kegiatan

Dyah menjelaskan kegiatan KSS yang dilakukan, di antaranya Jus Sehat (Jumat Sedekah Setulus Hati) yang dilakukan setiap Jumat, berupa sedekah nasi atau makanan keliling panti maupun ke jalan-jalan. Kemudian, Jus Jambu (Jumat Sedekah Jamuan Buka) seperti ke panti, rumah sakit, serta keluarga tidak mampu. Ada juga Seberkas (Senam Bersama Kakak Sahabat Sedekah) yang dilakukan setiap tiga bulan sekali dengan mengajak anak panti untuk senam, sarapan, dan mancakrida.

Selain itu, ada kreasi pemanfaatan barang bekas bersama komunitas lain, belajar bahasa Inggris bersama Homey English, serta belajar tari dan seni bersama mahasiswa. Selain itu, juga program Ikan Tuna (Ingat Kawan Tunanetra) berupa pemberian tongkat untuk tunanetra, membantu pencetakan Iqra braille dan Alquran terjemahan braille kepada Pertuni Lampung.

"Di sini kami juga bersinergi dengan YLKI mengadakan sosialisasi dan pencegahan kanker serviks bagi perempuan tunanetra di Hari Ibu," kata perempuan berhijab itu.

BERITA LAINNYA


EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR