APA yang menarik dari konferensi pers pasangan calon presiden nomor 02 Prabowo Subianto bersama sejumlah media asing di kediamannya di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Senin (6/5/2019). Dikutip dari situs Tempo.co, tema pertemuan tersebut adalah Pemilu 2019: Bukti kecurangan dan apa artinya bagi demokrasi Indonesia. 

Namun, izinkan saya tidak berasumsi soal ambisi politik dan segala argumen politik dan hukum lainnya yang juga sudah dibahas di Editorial Media Indonesia (grup Lampung Post) berjudul Media Asing Tempat Curhat, Rabu (8/5/2019).  



Terlepas dari semua hal itu, menurut hemat saya, inilah tamparan keras bagi semua pemilik media yang merujuk buku Ross Tapsell berjudul Kuasa Media di Indonesia: Kaum Oligarki, Warga, dan Revolusi Digital dikuasai oleh segelintir pemilik media yang seakan membentuk oligarki.

Ross Tapsell yang merupakan pengajar senior di College of Asia and the Pacific, The Australian National University, secara apik menganalisis perubahan media (digital) di Indonesia memengaruhi cara kekuasaan digunakan. Ia juga dengan gamblang menjelaskan industri media di Indonesia dan struktur kuasa yang beroperasi di dalamnya.

Daftar konglomerat media di Indonesia yang dihimpun Tapsell (2018, hal. 78—79) di antaranya Hary Tanoesoedibjo yang memiliki Perusahaan Global Media Com membawahi media tiga televisi (MNC, Global, dan RCTI) dengan terbitan andalan Koran Sindo, media daring Okezone dan Sindonews, stasiun radio unggulan Trijaya FM, ARH Global. Kedua, Eddy Sariatmadja memiliki Perusahaan EMTEK yang membawahi tiga stasiun televisi (SCTV, Indosiar, dan O-Channel) dan media daring Liputan6.

Kemudian, Chairul Tanjung memiliki Perusahaan CT Corp yang menguasai tiga stasiun televisi utama yaitu TransTV, Trans7, dan media daring unggulan Detik dan CNN. Keempat, Aburizal Bakrie memiliki Bakrie Group yang menguasai dua stasiun televisi TVOne dan ANTV serta media daring unggulan Viva.

Selanjutnya, Surya Paloh memiliki Media Group yang menguasai Metro TV, Media Indonesia, dan media daring Metrotvnews. Lalu, ada James Riady dengan Lippo Group yang membawahi media BeritaSatu di saluran televisi dan daring serta Suara Pembaharuan di media cetak.

Seterusnya, ada Dahlan Iskan dengan Jawa Pos Group, memiliki Jawa Pos TV, koran Jawa Pos, dan jpnn.co di media daring. Terakhir, Jacob Oetama dengan Kompas Group-nya memiliki stasiun televisi KompasTV, koran cetak Kompas, serta media daring Kompas dan Tribunnews.

Tapsell (hal. 75) menyatakan bahwa kepemilikan media terebut menjadi hambatan terhadap independensi jurnalis. Di sini, terbentanglah elemen-elemen jurnalisme Bill Kovach dan Tom Rosenstiel bahwa tugas utama jurnalis adalah memberitakan kebenaran, loyalitas utama jurnalis pada masyarakat, esensi jurnalisme adalah verifikasi, jurnalis harus independen, jurnalisme harus memantau kekuasaan dan lainnya.

Cara Prabowo yang menumpahkan curahan hati (curhat) kepada media asing mesti direspons dari sisi positif. Itulah kritik internal kepada semua media di Indonesia. 

BERITA LAINNYA


EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR