SELAMA ini kata krisis selalu dihubungkan masyarakat dengan uang. Jika ada ucapan krisis tentu masyarakat mengartikannya kondisi susah karena uang atau ekonomi yang hancur.

Na ya kidah...kik ani tian krisis no khetini adu mak dok duit do (Iyalah...jika kata mereka krisis, artinya sudah tidak ada uang lagi).



Tapi ini krisis berbeda. Di Afghanistan, panen musim panas menjadi yang paling kritis dalam bertahun-tahun, terutama gandum. Sebab, saat negara itu pulih dari banjir dan kemarau terburuk dalam beberapa dasawarsa, kini harus menunggu tanaman yang baru ditanam siap panen.

Seperti dilansir dari kantor berita Reuters, banjir merendam lahan yang ditanami kacang polong dan gandum. Banjir pada Maret menambah rumit pemulihan.

Pantas goh kik tisebut krisis. Melamon sai kena, wat-wat gawoh (Pantas saja jika disebut krisis. Banyak yang terdampak, ada-ada saja).

Hujan lebat menewaskan sedikitnya 63 orang dan menghancurkan atau merusak lebih dari 12 ribu rumah, memengaruhi 119.600 orang, kata Kantor PBB bagi Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA).

Sebanyak 243 ribu orang masih mengungsi akibat kemarau tahun lalu di Provinsi Herat, Badghis, dan Ghor di Afghanistan Barat, kata OCHA. Banyak orang telah pindah ke daerah perkotaan tempat mereka hidup di tenda di tanah warga atau negara, sehingga menciptakan ketegangan dengan para pemilik tanah.

"Jika panen bagus, itu akan membantu masyarakat keluar dari masa suram yang mengerikan. Jika tidak, kami akan memerlukan suntikan banyak makanan secepatnya," kata Toby Lanzar, Wakil Utusan Khusus PBB untuk Afghanistan.

Gandum musim dingin yang dipanen pada Juni dan Juli akan diperlukan untuk memberi makan orang yang kehilangan tempat tinggal, dan sebanyak 10,6 juta orang yang berjuang untuk memperoleh cukup makanan di tempat mereka tinggal, kata Lanzer.

Pertanian memasok sepertiga ekonomi negeri tersebut, walaupun hanya 12 persen tanahnya subur.

Kemungkinan panen gandum tetap tak menentu, kata Menteri Pertanian Nasir Ahmad Durrani, dalam satu wawancara pada 20 Maret. Jika temperatur hangat terlalu cepat, salju yang mencair dapat menciptakan banjir yang menyapu tanaman yang sudah matang, katanya.

Tidak jelas berapa banyak gandum yang bisa ditanam petani pada musim gugur lalu, kata Rajendra Aryal, wakil Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) di Afghanistan.

Banyak petani menggunakan benih gandum utnuk membuat roti agar bisa bertahan hidup dan bukan menyimpannya untuk ditanam lagi, kata Aryal.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR