TIAP orang memiliki hak yang sama sehingga tidak perlu melihat latar belakang orangnya. Hal itulah yang dilakukan Komunitas Peduli Gangguan Jiwa Lampung (KPGJL). Berangkat dari rasa kepedulian dan keprihatinan terhadap orang dengan gangguan jiwa di Lampung, membuatnya tergerak untuk memperhatikan mereka yang memiliki gangguan mental.

Pendiri KPGJL, Elisa Ramanda, mengisahkan bahwa selama ini ia banyak menemukan orang gangguan jiwa berkeliaran di jalan, mengambil makanan dari tempat-tempat sampah, begitu juga mengambil minuman dari tempat kotor seperti sanitasi (comberan).



"Saya prihatin banyak orang gangguan jiwa makan nasi dari tempat sampah dan mereka tidak diurus Dinas Sosial. Begitu juga dengan NGO atau komunitas yang menanganinya belum ada. Dari situlah kami tergerak untuk membentuk komunitas ini," ujar Elisa di kediamannya.

Atas dasar itulah, komunitas yang berdiri sejak 13 Februari 2017 itu berkomitmen membantu dan memfasilitasi orang dengan gangguan jiwa. Elisa menegaskan setelah berjalan kurang lebih dua tahun, ada dua program prioritas yang dijalankan KPGJL, yakni orang gangguan jiwa yang telantar dan tidak telantar.

Untuk gangguan jiwa yang telantar pihaknya rutin memberikan obat-obatan, makanan, minuman, pakaian, dan terapi. Sedangkan untuk nontelantar, dengan memberikan terapi setiap hari. Misalnya, terapi kejiwaan, terapi hobi, terapi sosial, dan juga terapi keagamaan. Selain itu, membantu memfasilitasi pasien untuk ke rumah sakit jiwa.

"Sebelumnya kami lebih dahulu dilatih bagaimana menangani orang gangguan jiwa. Berbahaya atau tidak. Kalau berbahaya bagaimana mengatasinya, termasuk komunikasi dan memberikan terapi."

Keliling

Elisa mengaku untuk menemukan orang-orang gangguan jiwa yang telantar dengan cara berkeliling ke berbagai tempat di sekitar Bandar Lampung. Misalnya, tiap Rabu dan Minggu. Sedangkan untuk gangguan jiwa yang nontelantar dengan cara mendapatkan informasi dari masyarakat atau pihak keluarga.

"Untuk menemukan orang gangguan jiwa yang telantar, kami keliling. Biasanya juga tentatif. Tempatnya menyeluruh. Biasanya di Simpur, Lungsir, Way halim karena mereka tidak menetap. Selalu berpindah-pindah tempat," kata dia.

KPGJL setidaknya kini telah mengurusi orang gangguan jiwa nontelantar sebanyak 15 orang, sedangkan untuk orang yang telantar jumlahnya mencapai ratusan. Berkat komitmen serta kerja keras para sukarelawan, beberapa pasien gangguan jiwa berangsur-angsur pulih dan mengalami perbaikan kondisi mental cukup signifikan. Bahkan, lebih dari 90%" orang gangguan jiwa dengan penyebab yang berbeda-beda bisa sembuh dengan terapi dan obat.

Selain memberikan pendampingan dan penyuluhan kepada orang gangguan jiwa, KPGJL juga rutin mengadakan terapi curhat bagi sukarelawan, kelas tahsin untuk sukarelawan dan pasien tiap minggu, meet up dengan psikolog, gathering kesehatan, serta kelas psikologi.

 

 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR