KOTABUMI (Lampost.co)--Korps Putri Pergerakan Mahasiswa Islam (Kopri-PMII) Kabupaten Lampung Utara meminta aparat dapat memberikan kepastian hukum kepada korban tindak asusila oleh oknum dosen UIN Raden Intan kepada korban yang juga mahasiswanya itu.

Ketua Kopri PMII Lampura Mora Arita meminta pihak rektorat dan aparat penegak hukum dapat menegakkan keadilan. Sebab, selain menimbulkan traumatik berlebihan kepada korban, hal itu telah mencederai citra institusi pendidikan tinggi negeri.



"Saya tergerak karena dia (korban) adalah mahasiswa dan anggota aktif PMII di sana, kemudian juga asli putra daerah Lampura, oleh karena itu kami tergerak menyampaikan ini. Selain duka mendalam tentunya ini dapat ditindaklanjuti prosesnya, baik dari pihak penegak hukum maupun institusi UIN," kata dia kepada lampost.co, Jumat (11/1/2019).

Berdasarkan informasi yang diterima, menurut Mora, kejadian itu bukan hanya terjadi sekali itu saja, melainkan telah ada beberapa lainnya yang mengalami kejadian serupa, tapi karena faktor satu lainnya tidak sampai ke media. Sehingga pihaknya cukup prihatin dan minta ada efek jera dari kejadian tersebut serta ada perlindungan bagi korbannya.

"Kami sangat berempati kepada korban karena sama posisinya seperti kami anak Lampura. Jangan sampai ada diskriminasi gender, tidak hanya institusi pendidikan melainkan juga lainnya," ujar Mora.

Sebelumnya, kabar tidak sedap menerpa UIN Raden Intan Lampung, terkait dugaan asusila yang dilakukan SH, dosen Fakultas Ushuluddin, atas mahasiswi berinisial EP, kini dosen tersebut dilaporkan ke Subdit IV Renakta Ditreskrimum Polda Lampung.

SH dilaporkan dengan Nomor LP/B-1973/XII/2018/LPG/SPKT Polda Lampung. Kasubdit IV Renakta Polda Lampung AKBP Ketut Seregi membenarkan laporan tersebut.

loading...

EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR