JAKARTA (Lampost.co) -- SEJUMLAH pihak meng-apresiasi pemerintah yang berhasil mengukuhkan investasi dari perusahaan papan atas Korea Selatan dalam kunjungan kenegaraan Presiden Joko Widodo ke 'Negeri Ginseng' pada 9-11 September.

Tingginya minat pengusaha Korea Selatan itu kian mengu-atkan penilaian beberapa lembaga pemeringkat internasional yang menilai Indonesia sebagai negara layak investasi.



Penandatanganan nota kesepahaman ekonomi antara Indonesia dan Korea Selatan itu mencapai nilai Rp80 triliun lebih di berbagai sektor, seperti energi, properti, permesinan, teknologi, dan kosmetik.

Menurut Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Hariyadi Sukamdani, kerja sama itu tentu sangat berarti bagi perekonomian Indonesia terutama dalam meningkatkan kapasitas produksi nasional.

"Nanti larinya ke nilai tambah ekonomi. Kerja sama dari infrastruktur sampai manufaktur pasti berdampak positif," kata Hariyadi, kemarin.

Akan tetapi, Hariyadi memberikan catatan agar pemerintah juga membenahi koordinasi di lapangan. "Hal ini bisa menjadi penghalang investor untuk berinvestasi."

Kunjungan Jokowi ke Korea Selatan menghasilkan kesepakatan bisnis senilai US$6,2 miliar (setara Rp81,7 triliun, dengan kurs 14.400 per dolar AS) melalui 15 nota kesepahaman dan enam komitmen investasi.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (10/9), mengatakan seluruh nota kesepakatan bisnis dan komitmen investasi itu semakin meningkatkan sentimen positif pihak asing terhadap kondisi ekonomi Indonesia.

Beberapa kesepakatan bisnis itu ialah PLTA Teunom-2 dan 3 di Aceh Jaya senilai US$800 juta, pabrik kimia di Banten senilai US$200 juta, pabrik mesin diesel senilai US$185 juta, properti di Bogor senilai US$150 juta, PLTA Pongkeru 50 Mw di Luwu Timur senilai US$300 juta, properti di Jakarta senilai US$70 juta, proyek coal fired steam power plant senilai US$3 miliar, dan kerja sama pengembangan pusat teknologi permesinan di Bandung senilai miliaran dolar AS.

Ketua Umum Kadin Bali, Alit Wira Putra, berharap kerja sama ekonomi Indonesia-Korea Selatan semakin memacu roda perekonomian di Tanah Air. "Korea Selatan bisa melakukan alih teknologi dan knowledge. Semoga Korsel tidak membawa semua tenaga ahlinya dari sana."

Perlunya percepatan rea-lisasi investasi Korea Selatan di Indonesia, menurut ekonom UI Lana Soelistianingsih, disebabkan negara itu tergolong maju di Asia. "Kita bisa mengangkat industri menengah untuk menekan impor. Jadi, nanti ada Samsung berlabel made in Indonesia."

Ketika menghadiri acara Indonesia-Korea Business and Investment Forum, Senin (10/9), Presiden Joko Widodo menggarisbawahi kerja sama ekonomi kedua negara yang sudah bertahun-tahun lamanya.

"Perusahaan Korea di Indonesia mempekerjakan sekitar 900 ribu orang. Korea Selatan ialah negara ketiga terbesar yang melakukan investasi di Indonesia di bidang industri dasar seperti baja dan besi, petrokimia, serta aluminium," tegas Presiden.

Ketua Korean Chamber of Commerce and Industry, Yongman Park, bahkan mengakui masih banyak peluang investasi di Indonesia. "Saya mengajak pengusaha Korea mau masuk ke Indonesia yang kini sedang giat-giatnya menggenjot pembangunan infrastruktur

EDITOR

Firman Luqmanulhakim

TAGS


KOMENTAR