Kolombo (Lampost.co) --Ledakan bom pada Hari Paskah di tiga gereja dan tiga hotel mewah Sri Lanka menewaskan 138 orang dan mencederai lebih 400, kata pejabat-pejabat rumah sakit dan sumber-sumber kepolisian, setelah suasana tenang dari serangan-serangan besar sejak akhir perang saudara 10 tahun lalu.

Usai delapan ledakan terjadi, pengamanan diberlakukan cukup ketat. Salah satunya di Gereja St. Sebastien, di Kolombo, yang juga menjadi sasaran ledakan. 



Hingga saat ini belum ada kelompok yang mengaku bertanggungjawab atas serangan ini. Namun, sebanyak 13 orang yang diduga terkait dengan insiden ini telah ditangkap.
 
Lima orang di antaranya ditangkap di dua lokasi berbeda di ibu kota Kolombo. Ditambahkan pula, lima orang ini mengaku mengenal delapan orang yang ditahan sebelumnya.
 
Berdasarkan sejumlah dokumen yang dilihat kantor berita AFP, disebutkan bahwa Kepala Kepolisian Sri Lanka Pujuth Jayasundara mengeluarkan peringatan intelijen kepada para bawahannya 10 hari lalu. Dalam dokumen diingatkan adanya potensi serangan bom bunuh diri ke "beberapa gereja ternama."
 
"Sebuah agensi intelijen asing telah melaporkan bahwa NTJ (National Thowheeth Jama'ath) berencana melancarkan serangan bom bunuh diri di beberapa gereja dan juga komisi tinggi India di Colombo," bunyi peringatan tersebut.
 
Namun, kepolisian Sri Lanka tidak segera melakukan antisipasi terhadap temuan ini. NTJ merupakan grup ekstremis di Sri Lanka yang dikait-kaitkan dengan perusakan sejumlah patung Buddha tahun lalu.

BERITA LAINNYA


EDITOR

Winarko

TAGS


KOMENTAR