BADAN Pusat Statistik (BPS) awal pekan ini merilis pertumbuhan ekonomi kuartal I 2019 sebesar 5,07%, terbaik dalam tiga tahun: periode sama 2017 (5,01%), 2018 (5,06%). Konsumsi jadi lokomotif pertumbuhan kuartal I 2019, terdiri dari konsumsi rumah tangga yang naik menjadi 5,01%, dibanding 2017 (4,93%) dan 2018 (4,94%).

Sementara konsumsi pemerintah naik tajam menjadi 5,21%, dibanding 2017 (2,71%) dan 2018 (2,71%). Juga konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT) naik lebih dua kali lipat menjadi 16,93%, dibanding 2017 (8,02%) dan 2018 (8,10%). (katadata, 6/5)



Meningkatnya konsumsi yang signifikan itu, utamanya konsumsi rumah tangga, menurut Staf Khusus Presiden Ahmad Erani Yustika tidak lepas dari inflasi yang semakin rendah (2,78%), sehingga daya beli masyarakat terjaga. Hal itu didukung indeks rata-rata perdagangan eceran yang tumbuh 8,8% dibanding indeks rata-rata perdagangan eceran periode sama tahun lalu.

Lebih dari itu, kinerja positif pertumbuhan ekonomi juga diiringi kualitas pertumbuhan yang membaik. Capaian itu setidaknya dapat dilihat dari semakin turunnya tingkat pengangguran menjadi 5,01% pada Februari 2019. Pekerja sektor formal semakin meningkat dari 53,08 juta orang (41,78%) pada Februari 2018 menjadi 55,28 juta orang (42,73%) pada Februari 2019. Kondisi itu menunjukkan lapangan kerja sejatinya terus bertambah dan semakin berkualitas. (MI, 8/5)

Selain penambahan lapangan kerja sektor formal sebanyak 2,20 juta itu, juga angkatan kerja baru sebanyak 2,24 juta orang dan 50 ribu orang pengangguran tertampung dalam periode Februari 2018—Februari 2019.

Konsumsi rumah tangga dengan kontribusi pada produk domestik bruto (PDB) kuartal I 2019 sebesar 56,82% itu, menyumbang pertumbuhan ekonomi sebesar 2,75% (yoy), sekaligus menjadi lokomotif penarik maju empat leading sector yakni sektor industri pengolahan yang menyumbang pada pertumbuhan ekonomi (0,83% yoy), sektor perdagangan (0,70% yoy), sektor konstruksi (0,59% yoy), serta sektor informasi dan komunikasi (0,47% yoy).

Besarnya kontribusi sektor industri pengolahan menunjukkan proses industrialisasi berjalan baik. Itu sejalan dengan hasil survei prompt manufacturing index (PMI) Bank Indonesia triwulan I 2019 yang mencapai 52,65% atau berada di level ekspansi dan merupakan PMI tertinggi untuk periode triwulan I dalam lima tahun terakhir.

Dengan bukti itu tidak benar isu bahwa Indonesia dalam kondisi deindustrialisasi.

loading...

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR