BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) --  Pagi itu, cuaca di sekitar Pasar Panjang di jalan Yos Sudarso,Kecamatan Panjang Utara,Kota Bandar Lampung terlihat cerah, Rabu (24/10/2018).

Terlihat dari kejauhan sinar mentari baru menyinari sebagian halaman depan Pasar itu karena terlindung bangunan pasar menjulang tiga tingkat. Meskipun masih terbilang pagi, sekitar pukul 08.30 WIB, sinar mentari terasa menyengat dikulit. Sampah terlihat menumpuk dipinggir jalan.



Begitu masuk ke halaman depan pasar, terlihat suasana pasar yang semrawut, para pedagang menjagagakan dagangan di sepanjang halaman depan pasar itu.
Bermacam macam jenis dagangan yang dijajakan para pedagang, mulai dari sayuran, daging ayam, ikan bahkan ada permainan anak anak bagian ujung.

Masih di halaman depan pasar,terlihat parkir kendaran roda dua dan roda empat tidak beraturan,bahkan terlihat sejumlah mobil digunakan untuk berdagang. Tidak hanya itu, bahkan terlihat juga tenda payung dan tenda terpal juga di pasang dihalaman depan pasar yang digunakan para pedang menjajakan dagangannya.

Kondisi pasar semrawut, sampah berserakan di sekitar taman  patung kuda, patung kudanya terlihat tidak terawat lagi, beberapa bagian patungnya sudah patah.
Kondisi semrawutnya, pasar di keluhkan oleh beberapa orang pedagang yang berdagang di ruko bangunan pasar pada lantai bagian bawah. “Iya itu mas kondisi pasarnya semrawut.Mas bisa lihat sendiri halaman pasar dijadikan tempat berjualan atau  berdagang, sembarangan tidak beraturan,” ujar Maryoto kepada lampost.co, Rabu (24/10/2018).

Masyoto menjelaskan, semestinya Pasar Panjang di kelola oleh pemerintah Kota Bandar Lampung atau Dinas terkait sebab masih ada bangunan pasar yang di kuasai oleh swasta sehingga harga sewanya mahal. “Kami sewa rukonya mahal, Rp 2,6 -2,7 juta pertahun.Selain itu bayar uang pasar Rp 3000,satpam Rp 2000 dan kebersihan Rp2500 perhari.Halaman depan itu becek karena drainasenya mampet,” ujarnya. 

Kondisi pasar yang semrawut juga diamini oleh anggota satpol PP yang bertugas di Pasar Panjang, namun menerka tidak bisa berbuat banyak karena jumlah mereka lebih sedikit dari para pedagang. “Kami enggak bisa berbuat banyak mas takut, karena anggota satpol pp disini bisa di hitung pakai jari sementara pedagang banyak, takutnya bentrok. Maunya ada atensi khusus dari atasan ditertibkan, tidak hanya petugas disini saja. Masalah ini sudah dilaporkan ke atasan,” ujar anggota satpol pp yang enggan disebutkan namanya.

Sementara itu, seorang pedagang yang berdagang di halam depan Pasar Panjang yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa mereka di pungut biaya untuk diperbolehkan berdagang. “Setiap hari diminta uang, Rp 15 ribu sampai Rp 16 ribu, satu lapak tiga atau lima orang, dalam satu lapak, enggak tahu juga kalau pedagang yang lain,”ujarnya.

 

 

 

EDITOR

Firman Luqmanulhakim

TAGS


KOMENTAR