JAKARTA (Lampost.co)-- Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) tegas akan menolak pengesahan Revisi Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP) selama masalah belum selesai. Kajian mendalam perlu terus dilakukan. 
  
"Sampai saat ini posisi kami belum bergeser, kami menolak RKUHP yang mengatur klausul pidana khusus, pidana pelanggaran HAM berat," kata Komisioner Komnas HAM Mohammad Choirul Anam, Minggu (5/5/2019). 
  
Choirul menilai penuntasan pelanggaran HAM berat akan semakin sulit saat pengesahan RKUHP bermasalah dilakukan. Sebab KUHP yang berlaku saat ini maupun terbaru akan menjadi payung seluruh hukum. 
 
"Doktrin umum di RKUHP adalah mengenal masa kedaluwarsa sementara pelanggaran berat tidak mengenal kedaluwarsa. Hukum payung itu yang lain harus tunduk, kalau ikuti itu yang terjadi kasus masa lalu akan tutup dalam konteks yudisial," paparnya. 
  
Choirul menilai aturan khusus kelembagaan yang dimasukan dalam RKUHP merupakan pelemahan. Lembaga negara seperti Badan Narkotika Nasional (BNN) maupun Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga memiliki keberatan yang sama dalam draft RKUHP. 
  
"Kami waktu itu bersama-sama di kantor KPK menyatakan sikap bersama. Kami juga secara sendiri-sneidi berkirim surat kepada presiden mengapa pasal itu dikeluarkan dalam pengaturan RKUHP," ujarnya. 
 
Choirul menghargai tim yang bekerja menyusun draft RKUHP baik internal pemerintah maupun Komisi III DPR RI. Pembahasan hanya perlu terbuka dan memasukan aspirasi dari masyarakat yang juga peduli pada aturan keadaban hukum yang sesuai dengan konsep Nusantara. 
 
"Jangan tergesa-gesa, kalau ada masalah buka saja draftnya, untuk jawab gagasan keadaban hukum kita seperti apa," ujarnya. 
  
Dia juga meminta pemerintah dan DPR RI mengakomodasi lembaga dan kelompok masyarakat yang mengerti secara substansi perkembangan paradigma hukum yang terjadi. Gagasan yang baik sejak awal mula hadirnya RKUHP di Tanah Air perlu terus dipertahankan.
 
"Tidak hanya soal pidananya tapi konstruksi pemidanaan, kalau tidak kita akan kembali ke 50 tahun yang lalu, banyak gagasan yang saat ini berkembang sangat baik," kata Choirul. 
 

loading...

EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR