LIWA (Lampost.co) -- Komisi III DPRD Lampung Barat segera akan meninjau kondisi sarana dan prasarana belajar berupa meja dan kursi belajar siswa SMPN 1 Liwa guna memastikan keberadaanya.

"Kami akan segera turun untuk meninjaunya secara langsung. Jika memang keberadaanya sudah banyak rusak maka diminta kepada dinas terkait untuk mengambil langkah dan mengusulkan pengadaan kembali," kata Ketua Komisi III SW Sundari, Selasa (24/7/2018).



Menurutnya, rencana pihaknya untuk mengecek fasilitas sekolah itu sebenarnya telah direncanakan sejak minggu lalu. Namun karena kesibukan rekan-rekan akhirnya belum terlaksana. Sebab itu dalam waktu dekat pihaknya akan segera melaksanakanya.

"Jangan sampai sekolah yang lokasinya berada di ibukota kabupaten dan selama ini merupakan sekolah kebanggaan masyarakat tetapi kondisi mebelnya tidak sesuai," kata Sundari.

Hal senada disampaikan oleh anggota Komisi III Dadin Ahmadin. Dadin meminta agar Dinas Pendidikan segera memperhatikan keberadaan sekolah-sekolah salah satunya SMPN 1 Liwa yang kondisi mebelnya telah rusak.

Pada prinsipnya lanjut Dadin, semua sekolah membutuhkan fasilitas tetapi penangananya harus berkeadilan. Berkeadilan menurutnya, bukan berarti masing-masing sekolah harus mendapat penambahan fasilitas yang jumlahnya harus sama akan tetapi dalam pengadaan fasilitas harus disesuaikan dengan kebutuhan sekolah itu sendiri misalnya dilihat dari jumlah murid atau ruang belajarnya.

Karena itu pihaknya meminta agar dinas terkait segera melaksanakan evaluasi dan melakukan pendataan lalu mengusulkan pengadaanya.

Ditempat terpisah Kadis Pendidikan Lambar Bulki, mengakui jika keberadaan mebel pelajar SMPN 1 Liwa sudah banyak yang rusak. Bahkan tidak hanya SMPN 1 Liwa saja akan tetapi masih banyak sekolah lain juga membutuhkan hal yang sama. Namun untuk SMPN 1 Liwa pihaknya pada anggaran perubahan ini akan berupaya mengusulkan pengadaanya kembali.

Minimnya mebel di sejumlah sekolah ini, kata Bulki, karena tiap tahun terjadi penambahan RKB di sejumlah sekolah melalui DAK sementara mebelnya dari APBD. Karena itu pengadaan mebel untuk pengganti yang sudah rusak menjadi terbatas.
 
"Kami akui jika keberadaan mebel SMPN 1 Liwa banyak yang rusak tetapi karena keterbatasan anggaran maka usulan pengadaan pada masing-masing sekolah terpaksa harus bertahap," kata dia.

Bulki berharap, melalui anggaran perubahan ini mebel pelajar SMPN 1 Liwa dapat dialokasikan pengadaanya kembali karena memang sudah selayaknya diperbaharui.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR