PEKAN lalu bisa jadi yang terberat bagi bangsa ini. Teroris berulah hingga menewaskan lima anggota Polri di Mako Brimob. Lalu, pada Minggu (13/5) pagi, tiga gereja diduga diledakkan oleh teroris.

Lokasi pertama di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya Utara, kedua Gereja Kristen Indonesia di Jalan Diponegoro 146, ketiga Gereja Pantekosta Pusat Surabaya di Jalan Arjuna.



Kabid Humas Polda Jatim Kombes Frans Barung Mangera mengatakan hingga pukul 15.00 telah jatuh korban sebanyak 9 orang tewas dan 40 luka-luka.

Sebelumnya, bangsa ini juga berduka saat bom meledak di Gereja Oikumene Samarinda pada November 2016. Korbannya adalah empat orang anak yang mengalami luka bakar. Satu di antaranya meninggal dalam perawatan di rumah sakit.

Kekerasan tanpa ampun jadi ciri gerak teroris. Ulah kaum radikal itu jelas mengganggu kepentingan nasional Indonesia yang tertuang di Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 yakni negara melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia.

Kepolisian melacak dan menganalisis berbagai informasi untuk memetakan potensi dan kecenderungan serangan teroris. Salah satunya, saat aparat menembak dua dari empat terduga teroris di Tambun, Bekasi, Jawa Barat, pada Kamis (10/5). Keempatnya diduga akan menyerang Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, saat terjadi kerusuhan di rutan.

Sebelumnya, sepanjang 2016—2017 sebanyak sembilan rencana teror berhasil digagalkan aparat. Beberapa di antaranya penangkapan tiga terduga teroris di Lamongan dan enam terduga teroris di Tuban.

Saudaraku, mari hayati kembali nilai-nilai perjuangan pahlawan yang membawa bangsa ini pada kemerdekaan. Tidak pandang suku, agama, ras, dan golongan, mereka berpadu menghancurkan musuh bersama saat itu, penjajah.

Kini kita pun sedang menghadapi musuh bersama, terorisme. Tidak ada yang terlalu sulit jika dilakukan bersama. Berteriaklah nyaring, kita adalah Indonesia. Siapa pun yang mengusik bagian dari bangsa Indonesia adalah musuh.

Pelaku pengeboman hanya segelintir orang. Dari segi kuantitas, persatuan bangsa jauh lebih besar dibanding orang-orang radikal tersebut. Boleh saja mereka terorganisasi. Tapi, tidak ada yang terlalu sulit untuk dilakukan jika kita bersatu.

Tentu siapa pun tidak ingin anggota keluarganya menjadi korban teroris. Duka keluarga korban adalah kesedihan bangsa ini. Terkutuklah terorisme dan paham radikalnya.

Rapatkan barisan! Mari seluruh warga negara Indonesia, siapa pun, di mana pun, kita adalah satu. Warga yang mencintai kedamaian. Jangan biarkan paham lain merusak indahnya nilai kebinekaan yang telah digariskan para founding fathers bangsa. Ideologi kita satu, Pancasila. Kita tidak takut! Kita Indonesia!

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR