FUNKE memiliki dokumen mengenai papadon batu dari pemiliknya dalam bentuk teks asli dengan terjemahan. Dokumen itu berisikan silsilah pemenang pepadon batu dengan sesakanja (perpakas ini Pepadun) Kibang Tengah.

Urutannya yakni Minak Rijou Menawang, anaknya Rijou Pangeran Nataderadjo, anaknya Rijou Pangeran Sukuwero, anaknya Rijou Keriou Nataderadjo, anaknya Rijou Pangeran Daru Alam, anaknya Rijou Alam Kabir, anaknya Rijou Keriou Nataderadjo, anaknya Rijou Dalam Diaj, anaknya Rijou Radja Suku Merga, dan anaknya Rijou Minak Rijou Menawang Burhanuddin.



Generasi yang ditulis menerangkan periode waktu setidaknya 300 tahun. Dengan ini, baris pemilik papadon batu tersebut dimulai dari sekitar tahun 1650 Masehi. Namun, orang Abung kelompok Mego Pak tampak sudah menghuni wilayah Tulangbawang lebih lama.

Selain itu, pemilik papadon batu tersebut menceritakan kisah berikut. Dahulu, papadon tersebut berdiri di desa lain. Di sana, datanglah perampok Bugis untuk menjarah. Pemilik papadon sebelumnya dapat melarikan diri tepat waktu. Ia membawa papadon tersebut sebagai barang paling berharga di sukunya dengan perahu.

Ketika tiba di tepi sungai dan papadon itu dipindahkan ke tanah, di situ papadon menolak untuk dinaikkan ke tepi sungai. Setelah berusaha keras, pemilik ini sangat marah dan memukul papadon dengan tongkat. Papadon itu melompat ke tangguk yang curam. Di atas sana, papadon yang terbuat dari kayu berubah menjadi batu.

Inti sebenarnya cerita ini adalah sebagai pengingat pada masa sulit bajak laut Bugis dan Melayu, terutama di Tulangbawang, tempat dulunya mereka melakukan kejahatannya. Bajak laut ini kemudian menyerbu papadon ini dan menghancurkannya sehingga papadon ini menjadi kepingan-kepingan.

Pada Penyimbang dari suku Abung di wilayah barat bernama Kunang dan Pasirah (pemimpin suku) dari Adjikagungan menceritakan mengenai papadon batu kedua. Sekitar 3 km dari lokasi ini terdapat papadon batu di dalam sungai kecil yang usianya lebih dari 600 tahun. Diceritakan di sana papadon tersebut disembunyikan dari musuh. Ketika kemudian dicoba untuk mengeluarkan papadon itu dari air, ternyata tidak berhasil. Maka papadon ini tetap berada di dalam sungai.

Meski Funke berteman dengan pasiran dari Adjikagungan, dia tidak berhasil mengunjungi lokasi papadon itu sehingga tidak ada dokumentasi foto maupun ukuran papadon tersebut. Namun, dari cerita yang didengarnya kenangan pada papadon batu itu masih tetap ada.

Berdasarkan tradisi lain dari Kunang-Abung, dulunya terdapat sangat banyak papadon batu yang awalnya terbuat dari kayu dan kemudian berangsur berubah menjadi batu karena sangat tua. Hal itu terjadi karena digunakan jenis kayu tertentu. Namun, jenis kayu ini kini tidak lagi diketahui.

Nama papadon dijelaskan oleh Penyimbang Abung sebagai berikut. Akar katanya adalah pa-paduan yaitu tempat di mana orang memberitahu, menasihati. Berdasarkan nama ini kemudian menjadi pa-paduan, lalu papadon.

 

BERITA LAINNYA


EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR