Jakarta (Lampost.co): Kondisi keuangan perusahaan rintisan atau start up Bukalapak terus tertekan hingga semester I-2019. Pendapatan perusahaan tercatat lebih kecil dibandingkan beban pokok.

Laporan keuangan induk usaha Bukalapak, PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK), yang dikutip Medcom.id, Rabu, 11 September 2019, menujukkan keuangan perusahaan unicorn itu terus melorot.



Bukalapak yang merupakan entitas dari PT Kreatif Media Karya (KMK), anak usaha EMTK, mencatat pendapatan hingga enam bulan pertama 2019 sebesar Rp69,76 miliar. Capaian pendapatan ini merosot dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp119,05 miliar.

Pendapatan ini tidak sebanding dengan beban pokok pendapatan yang melonjak dari Rp3,83 miliar pada semester I-2018 menjadi Rp37,73 miliar pada semester I-2019.

Bukalapak juga memikul utang usaha lebih besar pada semester I ini. Tercatat, semester I-2019 utang usaha Bukalapak sebesar Rp84,3 miliar, naik dari Rp56,8 pada semester I-2018. Utang usaha perusahaan juga naik dari Rp1,94 miliar menjadi Rp2,95 miliar.

Sementara piutang usaha perusahaan pada semester I-2019 tercatat Rp18,98 miliar. Sedangkan pada semester I-2018 mencapai Rp34,26 miliar. Pada periode ini perusahaan juga mencatat piutang lain-lain sebesar Rp79,88 miliar.

Saat ini KMK memegang porsi saham 35,17 persen di Bukalapak. KMK dimiliki sepenuhnya oleh EMTK dengan porsi kepemilikan saham sebesar 99,99 persen.

Usai berita pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan Bukalapak beredar, saham EMTK amblas berada di zona merah. Saham EMTK terus tertekan sampai saat ini.

Pada penutupan perdagangan kemarin saham EMTK ditutup di level Rp6.300 per saham. Hari ini pun, saham EMTK terus melemah. Hingga pukul 14.11 WIB, saham EMTK sudah turun 50 poin atau 0,79 persen dari pembukaan perdagangan di level Rp6.300 per saham.

Bukalapak membeberkan alasan pemutusan kerja (PHK) ratusan karyawan, Selasa, 10 September 2019. Salah satunya, adalah keinginan meraih laba profit untuk pertama kalinya.

Chief of Strategy Officer of Bukalapak, Teddy Oetomo mengatakan perusahaan mau bertransformasi sebagai 'Sustainable E-commerce'. Sustainable E-commerce merupakan perusahaan e-dagang yang menghasilkan keuntungan.

"Kami ingin menjadi e-commerce unicorn pertama yang meraih keuntungan, dan dengan pencapaian performa bisnis yang baik dan modal yang cukup," kata Teddy.

Pasca melakukan PHK ini, kata Teddy, perusahaan menargetkan untuk memperoleh keuntungan dalam waktu dekat. "Kami menargetkan untuk dapat mencapai breakeven bahkan keuntungan dalam waktu dekat," sebut dia.

Selama pertengan 2019, gross profit profit perusahaan tercatat naik tiga kali lipat dibandingkan pertengahan 2018. Perusahaan juga telah mengurangi setengah kerugian dari pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) selama delapan bulan terakhir.

EDITOR

sjaicul

TAGS


KOMENTAR