BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Ketupat sangat identik dengan Lebaran. Hampir di setiap rumah yang merayakan Idulfitri, ada hidangan ketupat dengan lauk opor ayam dan rendang.

Ketupat yang meupakan beras yang dimasukan di dalam kulit ketupat yang tebuat dai janur atau daun kepala muda, dimasak dengan air  selama beberapa jam hingga padat tapi kenyal dan lembut. 



Sejak H-2, penjualan kulit atau bungkus ketupat sudah marak di pasaran. Di Pasar Way Kandis dan Pasar Kangkung, Telukbetung, penjual ketupat mulai bertebaran di pinggir pasar, yang membanderol harga Rp8.000-Rp6.000 per ikat isi 10 bungkus.
"Saya bawa kulit ketupat 50 ikat, cuma beberapa jam sudah habis te
Arti dan Makna Filosjual, Alhamdulillah," kata Rejo, penjual kulit ketupat di Pasar Kangkung, Sabtu (24/6/2017). Kulit ketupat besar dijual Rp8.000, sementara yang kecil Rp6.000/ikat. 

Sejarah Ketupat

Merujuk dari beberapa sumber terkait sejarah ketupat atau kupat, ada yang menyebutkan ketupat pertama kali dipekenalkan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga kepada masyarakat Jawa. 
Sunan Kalijaga membudayakan 2 kali bakda, yaitu Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. Bakda Kupat dimulai seminggu sesudah Lebaran. Pada hari yang disebut Bakda kupat tersebut, di tanah Jawa waktu itu hampir setiap rumah terlihat menganyam kulitketupat dari daun kelapa muda.

Setelah selesai dianyam, ketupat diisi dengan beras kemudian dimasak. Ketupat tersebut diantarkan ke kerabat yang lebih tua, sebagai lambang kebersamaan.

Dalam filosofi Jawa, ketupat lebaran bukanlah sekedar hidangan khas hari raya lebaran. Ketupat memiliki makna khusus. Ketupat atau kupat dalam bahasa Jawa merupakan kependekan dari Ngaku Lepat dan Laku Papat. Ngaku lepat artinya mengakui kesalahan. Laku papat artinya empat tindakan: ampunan, sedekah, memafkan, kesucian.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR