KALIANDA (Lampost.co) -- Dibawah panasnya terik matahari, pria yang mengenakan topi merah itu tengah memperbaiki mesin alkon atau mesin sedot air di areal lahan Desa Bandanhurip, Kecamatan Palas, Lampung Selatan, Selasa (13/8/2019).

Pria itu tergesah-gesah menyambungkan selang tabung gas elpiji ukuran 3 kilogram ke karburator pada mesin alkon yang dibawanya dari rumah. Dengan hitungan menit selang dari regulator tabung gas ke karburator mesin terpasang. 



Pria yang berkaos abu-abu iti adalah Jarna (48). Dia merupakan salah satu petani yang kerap menggunakan mesin alkon yang dimodifikasi berbahan bakar tabung gas elpiji melon. Ia memanfaatkan tekhnologi berbahan tabung gas elpiji itu untuk mengairi areal laham persawahannya. 

"Kalau disini ini mesin alkon banyak menggunakan bahan bakar gas elpiji mulai banyak sejak beberapa tahun terakhir. Petani menilai lebih menghemat pengeluaran untuk beli bahan bakar," kata warga Desa Bandanhurip itu. 

Dia mengaku baru satu tahun terakhir memodifikasi mesin alkon berbahan tabung gas elpiji itu. Ia mengaku cara memodifikasi tersebut belajar dari rekannya di daerah lain.

"Kalau penemunya saya kurang paham, mas. Tapi, kabarnya sih awal mulanya ramai digunakan petani di daerah Desa Baliagung. Tapi, sekaranh disana sudah menggunakan mesin sible listrik," kata dia.

Bukan hanya hemat biaya, Jarna mengaku penggunaan mesin alkon berbahan tabung gas elpiji melon itu aman dan waktunya lebih lama ketimbang menggunakan bensin.

"Aman kok digunakan. Kita gunakannya kan bukan didalam ruangan. Kalau bocor kan gas nya kemana-mana diruang terbuka, enggak cuma disitu-situ aja. Biasanya satu tabung bisa mengairi lahan seluas seperempat hektare. Kalau bensin bisa lebih dar empat liter," kata dia.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR