HARGA batu bara kontrak pengiriman Juni 2018 di ICE Futures Exchange menguat 1,93% ke level 100,10 dolar AS per metrik ton (data Bloomberg). Hal ini disebabkan penguatan harga batu bara didukung oleh meningkatnya permintaan, terutama permintaan dari Asia. Sebab, sekitar 70 persen pembangkit listrik di kawasan ini masih menggunakan bahan baku batu bara. Menurut analis PT Asia Tradepoint Futures, Deddy Yusuf Siregar, jumlah pembangkit listrik berbahan baku batu bara di Asia justru bertambah dari tahun.

Kondisi seperti ini membuat batu bara menjadi komoditas yang “seksi”, sehingga banyak sekali pengusaha batu bara mulai mengeksplorasi lagi barang tambang yang pada tahun kemarin harganya menurun tajam itu. Efeknya, lalu lintas truk batu bara mulai berbondong-bondong melintas di jalan-jalan nasional dan jalan provinsi baik di Provinsi Lampung.



Timbul Masalah

Hal ini tentunya mengakibatkan permasalahan di daerah yang dilaluinya, mengingat muatan truk batu bara yang selalu overload. Selain itu, cara berkendaraan truk-truk itu juga selalu beriringan dalam jumlah yang banyak alias konvoi. Kedua hal itulah yang menyebabkan permasalahan di jalan.

Kelebihan muatan menyebabkan kerusakan jalan dan jembatan, terlebih umur jembatan kita rata-rata sudah berumur tua. Sementara konvoi truk batu bara menyebabkan kemacetan di jalan karena kendaraan berjalan lambat dan susah untuk didahului. Beberapa kabupaten mengambil langkah tegas menyikapi fenomena ini. Salah satunya, Kabupaten Way Kanan dan beberapa kabupaten di Lampung melarang truk batu bara dengan muatan berlebih melintasi jalan di wilayahnya.

Pada dasarnya, roda perekonomian tidak boleh dihambat. Pemerintah tidak bisa melarang begitu saja pengusaha mengangkut hasil usahanya ke suatu tempat. Akan tetapi, pemerintah bisa mengatur melalui undang-undang dan peraturan pemerintah (perda).

Pemerintah melaui Dinas Perhubungan, Dinas PU Bina Marga, dan kepolisian bisa mengatur pembatasan muatan sesuai dengan muatan sumbu terberat (MST) yang direncanakan PU Bina Marga, yaitu 8,16 ton dan 10 ton. Akan tetapi, apakah selamanya akan selalu begitu, sedangkan permintaan akan batu bara selalu meningkat?

Solusi

Ada solusi untuk keluar dari masalah ini, yaitu memindahkan angkutan barang menggunakan ke moda transportasi, yaitu angkutan rel (Kereta Api) atau angkutan sungai. Namun, yang lebih memungkinkan adalah angkutan kereta api yang sudah ada di depan mata.

Pihak terkait hanya tinggal menaikkan kapasitas angkut. Di sisi lain, Pemerintah Pusat melalui Kementerian Perhubungan sudah mengupayakan menaikan kapasitas lintas kereta api Palembang—Lampung dengan membangun rel ganda (double track). Sampai sekarang program ini belum selesai. Mestinya, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten proaktif mendorong program ini untuk dipercepat atau memasukkannya ke prioritas program.

Pemerintah Provinsi Lampung sudah merencanakan juga dryport dengan jaringan kereta apinya di sentra-sentra industri. Sementara Kementerian Perhubungan tahun ini juga melakukan perencanaan lingkar luar jalur kereta api (dari Tegineneng—Tarahan) untuk menghindari kereta api babaranjang dan kereta barang lainnya memasuki Kota Bandar Lampung.

Rutenya, rute dari Stasiun Tegineneng belok ke kiri menyisiri jalan tol sampai Sabahbalau lalu kembali ke rel existing. Artinya, kalau double track dan lingkar luar jalur kereta api sudah terbangun, masalah angkutan batu bara dan barang lainnya bias teratasi.

Pemindahan moda angkut dari truk ke kereta api ini tentunya membuahkan banyak keuntungan. Selain tidak menyebabkan jalan cepat rusak, kereta api memiliki kapasitas angkut yang besar, yakni mencapai 3.000 ton. Itu setara dengan 300 truk. Kelebihan lainnya, kereta api mampu mengurangi polusi udara yang dihasilkan oleh truk-truk besar.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR