WARGA Cirebon gegap gempita menyaksikan Festival Keraton Nusantara (FKN) XI, Sabtu (16/9/2017). Kegiatan bernuansa budaya itu merupakan yang kedua kalinya diselenggarakan di Kota Cirebon, sebelumnya tahun 1997 pada FKN II. Festival ini berawal dari Festival Keraton se-Jawa yang diadakan di Solo pada 1992. Lalu, pada 1995 berkembang dan berubah menjadi Festival Keraton Nusantara yang digelar di Yogyakarta.

Kegiatan budaya keraton ini diselenggarakan setiap dua tahun. Pesertanya datang dari puluhan kerajaan seluruh Nusantara, termasuk Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Bkhak Kepaksian Pernong Lampung. Pada FKN kali ini, Sekala Bkhak mengirim pasukan budaya sebanyak 357 orang—yang dikendalikan langsung Sultan Sekala Bkhak Yang Dipertuan Ke-23 Saibatin Puniakan Dalom Beliau (SPDB) Pangeran Edward Syah Pernong.  



Mereka didatangkan dari bumi Lampung Barat, Tanggamus, Pringsewu, Pesawaran, dan Way Handak, Lampung Selatan. Pasukan terdiri terakot pedang, terakot tumbak, jajakh itton, hulubalang paksi, pendekar labung angin, penggittokh alam, pendekar hulubalang, pasukan panah Sekilap Wawwas, serta panglima kerajaan. Dalam acara pembukaan FKN XI, Sultan Sekala Bkhak, permaisuri, dan putra mahkota duduk di barisan paling depan bersama Gusti Kanjeng Ratu Hemas, istri dari Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Festival ke-11 yang berlangsung 15—19 September lalu itu dibuka Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan dan ditutup Presiden Joko Widodo. Banyak hal yang bermanfaat dari FKN. Keraton Nusantara bisa memperkenalkan adat tradisi dan budaya serta melestarikan benda-benda peninggalan sejarah dan purbakala. FKN juga meningkatkan kesadaran, rasa cinta, serta kebanggaan masyarakat akan budaya bangsanya.

Silaturahmi para raja dan sultan se-Nusantara itu untuk menciptakan rasa persatuan-kesatuan serta berwawasan budaya Nusantara. Paling dirasakan manfaat bagi tuan rumah adalah meningkatnya kunjungan wisatawan dari mancanegara. FKN di Cirebon ini dikunjungi utusan negara tetangga, antara lain Asia Tenggara serta utusan Kedutaan Amerika Serikat.

Ketua Panitia FKN XI Agus Mulyadi mengatakan perwakilan dari kerajaan dan kesultanan negara tetangga yang hadir menjadi partisipan adalah Brunei Darussalam, Sri Lanka, Malaysia, Singapura, dan Filipina. Pada FKN XI diikuti 47 keraton sebagai peserta yang berada di Nusantara dan 113 keraton lainnya masih berstatus sebagai peninjau. “Kerajaan Sekala Bkhak sudah lima kali ini mengikuti FKN,” kata Pangeran Edward Syah Pernong, Kamis (21/9/2017).

Dalam akun Facebook Sultan Arief Natadiningrat dari Keraton Kasepuhan Cirebon secara khusus menyampaikan rasa hormatnya kepada pasukan adat dan budaya Sekala Bkhak. “Terima kasih Sekala Bkhak Kepaksian Pernong, luar biasa, alhamdulillah,” tulis Sultan Sepuh XIV Arief. Cirebon memberikan fasilitas berlebih kepada Kerajaan Lampung ini selama berada di tiga keraton Cirebon, yakni Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan.

                                                                                                                                                                          ***

Sekala Bkhak memukau penonton. Kirab budaya keraton se-Nusantara Kerajaan Adat Sekala Bkhak merupakan kirab terpanjang dan terbanyak dibanding keraton lainnya. Malamnya, di Keraton Kecirbonan, Kepaksian Pernong ini mendapat kehormatan mempertunjukkan tari sumbuk heling, tari marok, musik gamolan pekhing, serta muayak bubandung.

Tidak itu saja, keraton Nusantara juga menggelar upacara adat, pergelaran busana keraton, pameran benda-benda pusaka keraton, serta pertemuan raja dan sultan Nusantara untuk merumuskan kegiatan FKN berikutnya. Pertemuan para bangsawan kerajaan untuk membangun kebersamaan. “Sekalipun membawa ciri khas budaya masing-masing, kebersamaan tetap dibangun,” kata Heryawan pada acara pembukaan FKN.

Kerajaan di Nusantara ini menjadi bagian penting bagi perjuangan bangsa Indonesia. Lahirnya Indonesia yang masih berdiri kokoh hari ini tidak lepas dari peran-peran raja Nusantara. Dengan 17 ribu pulau yang membentang dari tanah Aceh hingga Papua, Indonesia memiliki tradisi dan budaya kian beragam. Pendiri bangsa Indonesia sudah memiliki wibawa yang kuat karena mampu untuk menyatukan seluruh bangsa.

FKN kali ini juga mendapat perhatian dari Permaisuri Sultan Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu Hemas. Anggota DPD RI ini mengungkapkan salah satu persoalan bangsa Indonesia adalah intoleransi. “Dengan pertemuan para raja se-Nusantara itu, diharapkan mencari solusi bersama-sama terhadap masalah intoleransi di negeri ini,” kata dia.

Pemerintah juga, ucap Hemas, harus memperhatikan keraton dan kerajaan di Nusantara, karena keraton merupakan bagian dari asal-usul bangsa Indonesia. “Mereka rela untuk melebur dalam Negara Kesatuan  Republik Indonesia (NKRI),” kata istri dari Sultan Yogyakarta itu. FKN juga menumbuhkan rasa kesadaran sejarah yang tinggi, semangat perjuangan, dan cinta Tanah Air.

Gayung bersambut, Presiden Joko Widodo pada acara penutupan FKN XI meminta keraton se-Nusantara melindungi dan merawat aset budaya bangsa, seperti naskah kuno, benda pusaka, karya arsitektur, dan karya seni. Di Taman Gua Sunyaragi, Cirebon, Presiden berpesan keraton juga ikut serta dalam pembangunan karakter bangsa. “Kita harus memiliki manusia yang berbudi luhur, tangguh, serta inovatif dan kreatif," kata Presiden.

Keraton menjadi pusat pelestarian budaya. Maka itu, seluruh keluarga besar dan kerabat keraton harus berperan dalam menjaga tradisi, menjaga nilai-nilai luhur sejarah yang ada di dalam keraton. Presiden menitipkan pesan kepada para sultan, raja, pangeran, permaisuri, serta pemangku adat keraton untuk menggalang persatuan, menjaga kerukunan, menjadi perekat kebinekaan serta memperkokoh NKRI.  ***

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR