BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Kepala Bank Indonesia Kantor Perwakilan Wilayah Lampung, Budihrato, mengatakan secara historis, inflasi di Bandar Lampung saat ini merupakan yang tertenggi dari rata-rata pada tiga tahun terakhir, yakni 1,42%. Beberapa faktor yang ikut andil dalam inflasi Bandar Lampung terutama didorong kenaikan harga kelompok volatile food, yaitu naiknya harga beras dan cabai merah. 
"Porsi beras cukup signifikan dalam menyumbang tingginya inflasi bulan Januari,"kata dia saat dihubungi Lampost.co, Jumat (2/2/2018).
Budiharto menjelaskan, pihaknya tetap melakukan berbagai upaya seperti menjaga  ketersediaan pasokan bahan pangan terutama beras. Hingga saat ini Bulog terus  melakukan Operasi Pasar beras cadangan pemerintah di pasar-pasar tradisional. 
"Untuk cabai merah, beberapa TPID  kabupaten/kota memiliki program menanam di pekarangan masing masing rumah warga. Upaya-upaya tersebut akan terus digalakkan dantentunya koordinasi TPID,  satgas pangan dan para pemangku kepentingan akan terus ditingkatkan,"imbuhnya. 
Namun, pihaknya optimistis inflasi di Bandar Lampung akan terkendali seiring dengan  masuknya musim panen raya di beberapa daerah.
"Kami berharap harga komoditas pangan kembali stabil dalam waktu dekat,"ungkapnya.
Diketahui Kota Bandar Lampung mengalami inflasi sebesar 1,42% karena adanya kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari 131,31 pada Desember 2017 menjadi 133,17 pada Januari 2018.

Kepala BPS Lampung Yeane Irmaningrum mengatakan enam kelompok pengeluaran memberikan andil dalam pembentukan inflasi di Kota Bandar Lampung yaitu dengan inflasi sebesar 0,64% kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,25%, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,37%, kelompok sandang sebesar 0,04%, kelompok pendidikan, rekreasi , dan olahraga sebesar 0,09%, dan kelompok transport komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,03%. 
"Sementara kelompok Kesehatan tidak memberikan andil dalam pembentukan inflasi maupun deflasi,"kata dia.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR