BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah hingga ke level Rp15.050 menjadi angin segar bagi eksportir kopi di Lampung. Pasalnya, kurs mata uang asing itu turut mendorong harga kopi yang kini tengah anjlok.

Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Provinsi Lampung, Juprius menjelaskan penurunan harga kopi saat ini dipengaruhi adanya musim panen di luar negeri, seperti Brazil dan Vietnam, sehingga mengakibatkan turunnya permintaan ekspor dari dalam negeri.



Namun, anjloknya harga itu turut terbantu dari nilai tukar dolar AS terhadap rupiah yang tinggi, sehingga harga kopi masih berada dinilai Rp19-20 ribu. "Kalau dolar itu tidak naik mungkin bisa lebih anjlok sampai Rp15-16 ribu. Sebab, kalau harga normalnya dikisaran 22-23 ribu," kata Juprius kepada Lampost.co, Rabu (5/9/2018).

Menurutnya, meroketnya kurs mata uang dolar AS turut membantu komoditas kopi. Namun, kendala lainnya adalah petani tidak mengerti nilai dollar dan hanya tahu mata uang rupiah. Sehingga, menurunnya harga kopi saat ini turut mempengaruhi kinerja petani untuk menanam kopi.

"Kalau memang peningkatan ekspor mau ditingkatkan, pemerintah harus ikut campur tangan dan sama-sama meningkatkan mutu dan produktifitas. Misalnya, awalnya hanya 600 menjadi sampai 2-2,5 ton per hektare. Kalau kebunnya sedikit, nilai tambahnya harus diberikan. Lebih susah lagi, sudag harga murah barangnya tidak ada pula," ujarnya.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR