PENGUSUTAN kasus meninggalnya mahasiswa FISIP Universitas Lampung Aga Trias Tahta (19) memasuki babak baru. Dua hari lalu, Polres Pesawaran menetapkan 17 mahasiswa senior sebagai tersangka dan langsung ditahan.

Kasus ini bermula saat Unit Kegiatan Mahasiswa Cakrawala menggelar kegiatan pendidikan dasar (diksar) pecinta alam di Padangcermin, Pesawaran, akhir September 2019. Usai mengikuti diksar pada Minggu (29/9), pihak keluarga membawa Aga ke rumah sakit, tapi tidak tertolong.



Polisi kemudian mengusut kasus ini. Kesimpulan hasil visum, korban mengalami luka lebam pada wajah dan kedua kaki, luka lecet di perut dan punggung, luka lebam mata kiri, luka lebam mata kanan, luka lebam pipi kanan, luka di perut, luka lebam lutut kiri, luka lebam tungkai kanan, dan luka lebam lutut kanan. Sebelum mengembuskan napas terakhir, korban mengeluh mual, pusing, cegukan, dan muntah-muntah.

Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, Polres Pesawaran akhirnya dua hari lalu menetapkan 17 mahasiswa senior UKM Cakrawala sebagai tersangka dan langsung ditahan. Sebanyak 15 mahasiswa tersangka penganiaya berinisial SC, AR, HU, AP, FT, HM, MKP, ZB, S, ZR, FA, BY, RA, MBR, dan ES. Sedangkan dua mahasiswa tersangka kelalaian berinisial KD dan KS atau MKS.

Sikap responsif dan ketegasan aparat penegak hukum dalam pengusutan kasus ini patut diacungi jempol. Karena itulah, semua pihak harus mendukung penuntasan perkara ini hingga semua fakta menjadi terang benderang. Kelak akan terungkap apakah benar penyebab meninggalnya Aga karena jatuh ke jurang atau karena disiksa para seniornya.

Lepas dari persoalan itu, semua kegiatan kemahasiswaan harus dievaluasi kembali jika sampai berujung maut. Tidak hanya di FISIP Unila, tetapi juga di semua lembaga pendidikan tinggi. Evaluasi harus dilakukan secara total, termasuk menyusun ulang standar operasional untuk setiap kegiatan pelatihan mahasiswa. Bukan hanya itu, setiap mahasiswa yang ingin masuk menjadi anggota UKM harus diseleksi lagi. Jangan mahasiswa yang mengidap penyakit tertentu diizinkan mengikuti UKM yang banyak menguras fisik.

Perlu juga ada pendampingan dari unsur fakultas dan tim kesehatan agar kegiatan pendidikan dasar tidak menjelma menjadi pendidikan tanpa peradaban. Dominasi mahasiswa senior terhadap mahasiswa junior secara psikologis sulit dihilangkan karena sudah menjadi tradisi.

Dominasi tersebut sering berujung pada aksi kekerasan dan penyiksaan dengan dalih sesuai tradisi setiap mahasiswa baru harus dipelonco. Hal inilah yang mendorong perlunya pengawasan intensif dari pihak fakultas dan tim kesehatan.

Hakikatnya pendidikan dasar pecinta alam diselenggarakan untuk mengenalkan mahasiswa pada alam lingkungan sekitar. Namun, predikat pencinta alam itu tidak dapat disematkan kepada mahasiswa yang melakukan penganiayaan terhadap junior hingga meregang nyawa. Tidak akan pernah bisa disebut cinta pada alam jika teman sendiri pun disiksa tanpa perikemanusiaan. Sudah saatnya semua lembaga pendidikan tinggi mengembalikan roh pendidikan yang berkeadaban. 

EDITOR

Setiaji Bintang Pamungkas

TAGS


KOMENTAR