KEMATIAN adalah rahasia Allah. Tak ada yang tahu waktunya kapan, di mana, dan sedang apa. Namun, yang pasti setiap orang ingin agar kematiannya husnul khatimah atau akhir hidup dengan baik, yang merupakan puncak tertinggi dari pendakian cita-cita seorang muslim.

Husnul khatimah tidak hanya berhubungan dengan orang tua dan lanjut usia. Urusan husnul khatimah adalah urusan setiap orang, tua-muda, besar-kecil, pejabat, maupun rakyat. Sebab, hakikatnya husnul khatimah juga hak setiap individu muslim di akhir hayatnya.



Bahkan, secara lebih spesifik cara mati demikian ditunjukkan atau ditandai dengan mengucapkan kalimat tauhid, yaitu pengakuan tidak ada Tuhan melainkan Allah swt, pada hembusan napas terakhirnya, sebagaimana disebutkan dalam sabda Nabi Muhammad saw.

Mati dalam keadaan husnul khatimah tersebut juga ditegaskan dan senantiasa diingatkan Allah swt seperti disebutkan melalui firman-Nya dalam Alquran bahwa jangan sekali-kali seseorang (mukmin) mati, kecuali dalam keadaan muslim (mengakui bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah swt).

Meskipun hal ini menjadi rahasia Ilahi, kejadian pembantaian 40 umat muslim di Masjid Christchruch, Selandia Baru, banyak diyakini umat muslim bahwa kematian mereka adalah husnul khatimah. Umat muslim, termasuk ada di antaranya warga negara Indonesia (WNI), sedang berada di dalam masjid untuk menunaikan salat Jumat.

Namun, ulah sekelompok orang, bahkan ada seorang yang sengaja merekam aksi biadab pembantaian tersebut layaknya permainan game, memberondong umat yang tengah berada di dalam masjid. Tak cukup sekali, pelaku kembali lagi untuk menembaki tubuh-tubuh yang telah lunglai terkapar bersimbah darah. Sungguh biadab dan tak berperikemanusiaan.

Puluhan umat musim meninggal dunia dalam peristiwa itu. Ini seperti yang telah digariskan Sang Khalik dalam Alquran. “Maka, jika datang waktu kematian mereka, tidak bisa mereka tunda dan mendahulukannya sedetik pun.” (QS An-Nahl: 61). “Dialah Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan, untuk menguji siapa di antara kalian yang terbaik amalnya.” (QS Al-Mulk: 2)

Bahkan, seorang nabi yang sudah mendapat jaminan akhiratnya, tetap selalu berusaha dan berdoa agar meraih husnul khatimah. Nabi Yusuf as yang berada di puncak keberhasilannya menjadi salah seorang pembesar istana justru bermohon husnul khatimah. “Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (QS Yusuf: 101)

Karena kematian adalah misteri, tentunya kita berharap agar kematian kita pun dalam keadaan baik dan husnul khatimah. Namun, untuk mendapatkan hal itu, kita harus mengawali dengan evaluasi amal yang telah kita lakukan, baik bersifat harian, pekanan, bulanan, maupun tahunan. Semoga kelak kita semua akan meraih husnul khatimah. Amin.

BERITA LAINNYA


EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR