LELAKI tua berwajah bulat dan berjambang lebat nan beruban itu mengacungkan telunjuk pada lengan kirinya lebih tinggi dari kepalanya. Bahunya duduk tegak di atas pembaharingan lusuh penjara. Gestur tubuhnya menandakan keteguhan hatinya.

Tatapannya lurus ke depan. Lengan kanannya terangkat berupaya menggapai cawan yang ia ketahui telah terisi cairan beracun. Sementara orang-orang di sekitarnya sebagian besar tertunduk lesu. Hanya Plato, murid terbaiknya, yang mampu menatapnya.



Socrates sang fisuf dari Athena pun menjemput kematiannya dengan gagah berani. Tak sedikit pun nyalinya surut. Jiwanya tak jua menciut kala menghadapi maut. Ia memilih mati dalam kebenaran ketimbang takluk oleh nalar sesat penguasa.

Demikian gambaran La Mort de Socrate (1787), lukisan karya pelukis Prancis, Jacques-Louis David. Lukisan ini menggambarkan detik-detik Socrates menjemput ajal sekaligus menjadi pelajaran terakhirnya kepada murid-muridnya.

Penguasa Athena dan kaum Sofis kota itu menudingnya sebagai penyebar ajaran sesat kepada kaum muda Athena. Socrates dinilai telah menggoyahkan keyakinan kaum muda terhadap dewa-dewa yang secara temurun mereka imani.

Socrates memang tengah menggelorakan ajaran baru; sebuah jalan filsafat. “Hidup tak layak dilakoni atau dijalani tanpa diuji, direfleksikan, atau dipertanyakan,” demikian ajaran sekaligus moto Socrates kepada para murid-muridnya.

***

Ah, betapa geger kriminalisasi Rocky Gerung akhir-akhir ini membawa kalbu saya kepada sosok filsuf klasik ini. Keduanya sama-sama memerangi “kedunguan” berpikir sekaligus berupaya menggelorakan jalan kehidupan bersama “akal sehat”.

Dari forum ke forum yang lain, Rocky berulang-ulang menyatakan tidak ada manusia dungu karena Tuhan telah menganugerahkan secara cuma-cuma akal sehat kepada setiap insan.

“Yang membedakan manusia satu dan yang lain adalah caranya dalam berpikir. Ada yang menggunakan akal sehatnya dengan baik, berargumen dengan benar. Tetapi, ada juga yang salah dalam reasoning, mengalami kedunguan berpikir,” ujar Rocky. 

Namun, ada pula yang menuding justru Rocky-lah kaum Sofis modern yang demen beradu retorika dalam alur filsafat njlimet demi uang ala kaum Sofis Athena. Fenomenanya memang “no Rocky, no party”, demikian sandang warganet padanya.

Ada Rocky memang ada rating dan viewer tinggi. Tengoklah viewer videonya di YouTube, rata-rata ribuan bahkan ratusan ribu. Tapi, ingat pula Rocky adalah sosok antimapan yang menolak ijazah akademik bahkan honor mengajar.  

Yang jelas, pria ubanan yang acap dipanggil profesor meski tak bergelar magister dan doktoral itu kini menghadapi perkara hukum atas retorikanya dalam forum di sebuah stasiun televisi nasional. Rokcy menghadapi jerat pidana UU ITE.

Rocky tentu tidak akan meneguk cawan beracun dan harus menghadapi malaikat maut seperti halnya Socrates. Waktu jualah yang akan membuktikan sejauh mana proses hukum terhadap pria yang gandrung mendaki gunung ini akan bermuara. Tabik pun...

 

loading...

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR