KALIANDA (Lampost.co) -- Musim kemarau yang kian panjang mengakibatkan sejumlah petani di Kecamatan Palas, Lampung Selatan, harus mengeluarkan biaya banyak (modal tambahan) untuk menyuplai air agar tanaman padi selamat. 

Berdasarkan informasi yang dihimpun Lampost.co, berbagai upaya dilakukan untuk menyelamatkan tanaman padi mereka, diantaranya dengan memompa air hingga menguras biaya tambahan untuk bahan bakar minyak (BBM). 



Seperti yang diungkapkan, Keri (46) petani asal Desa Bumirestu, Kecamatan Palas. Dia mengaku sudah beberapa hari terakhir memanfaatkan pompanisasi dari sumur bor. Sebab, lahan seluas satu hektare miliknya alami kekeringan.

"Sudah tiga hari tiga malam ini saya sedot air. Ya, untuk menolong tanaman padi kami yang sudah kering. Sudah lumayan banyak keluar modal tambahan. Dana untuk membeli bahan bakar mesin pompa air saja sudah habis Rp1,7juta untuk mengaliri lahan seluas satu hektare," kata dia saat dihubungi Lampost.co, Senin (6/8/2018).

Dia mengaku disaat musim kemarau ini dirinya hanya bisa mengandalkan sumur bor pribadinya. Sebab, air di saluran irigasi sudah tidak mencukupi dan ada yang sudah kering. 

"Ya, mau enggak mau saya harus mengeluarkan biaya tambahan. Kalau enggak, tanaman padi usia 1 bulan bisa mati atau gagal panen," kata dia. 

Hal senada diungkapkan, Gapoktan Mekarmukti Desa Mekarmulya, Darto yang mengatakan dirinya bersama petani memanfaatkan mesin sedot yang merupakan bantuan dari Pemerintah. Ia masih beruntung, karena lahan miliknya tidak jauh dari DAS Way Sekampung. 

"Alhamdulillah, air di DAS masih ada. Kami manfaatkan bantuan Alsintan dari Pemerintah melalui jaringan ferrocemen," kata dia di Desa Bangunan, Kecamatan Palas.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR