KALIANDA (Lampost.co): Petani sawit di sejumlah desa di Kecamatan Ketapang, Sragi, dan Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, waswas dengan kemarau panjang. Mereka cemas kekeringan memengaruhi pertumbuhan tandan buah sawit.

Tanda-tanda kemarau mengancam sudah tampak jelas. Banyak tanaman sawit tidak berbunga. Kondisi ini jelas akan berdampak pada tandan buah segar ((TBS) sawit.



 "Hasil panen sawit merosot hingga 50% lantaran cuaca panas," kata Suko, 35, petani sawit yang sedang memanen TBS di Desa Kemukus, kecamatam Ketapang, kepada Lampost.co, Kamis 19 September 2019.

Harga TBS Sawit Masih Terpuruk

Ironisnya hasil panen merosot, harga TBS kelapa sawit di tingkat petani juga masih terpuruk."Hasil panen merosot, harga TBS sawit juga bertahan rendah di tingkat pengepul kisaran Rp800-850/Kg.

Sejumlah warga yang masih bertahan sebagai petani sawit itu berharap kepada pemerintah untuk menstabilkan harga buah sawit agar kesejahteraan petani kembali normal."Dulunya luas lahan tanaman sawiit di perbatasan antara kecamatan Ketapang, Sragi dan Penengahan cukup luas, namun banyak yang gagal, sehingga dirubah kembali menjadi lahan jagung," terang Suko.

Hal senada diungkapkan Heri (40) petani dari Desa Gandri kecamatan Penengahan. Akibat cuaca panas, ujarnya. Hasil panen turun dratis. "Biasanya lahan 2 hektare bisa menghasilkan TBS sawit hingga 1 ton, sekarang cuman dapat 450 kg saja," ucapnya.

Selain hasil panen turun ratis, ia juga kecewa dengan harga TBS sawit yang masih rendah. "Dengan luas lahan 2 hektar hanya dapat duit sekitar Rp 375ribu. Hasil panen itu sudah tidak cukup untuk biaya perawatan apalagi untuk kesejahteraan petaninya," pungkasnya.

EDITOR

Winarko

TAGS


KOMENTAR