AWAL pekan ini sejumlah petani di Kecamatan Palas dan Sragi, Kabupaten Lampung Selatan, mengeluhkan nasib tanaman padi milik mereka terancam gagal panen akibat tersengat kemarau. Sebab, tanpa pasokan air cukup, tanaman mereka dipastikan tamat. Amat wajar para petani menjadi teramat galau. Sebab, prakiraan cuaca BMKG Provinsi Lampung menyatakan kemarau masih akan berlangsung sejak September hingga Oktober. Kekeringan juga diperkirakan akan melanda sebagian wilayah di Lampung.
BMKG pun memprediksi pada Oktober sejumlah daerah di Bumi Ruwa Jurai berpotensi mengalami kekeringan yakni Lampung Utara, Mesuji, Lampung Timur, Lampung Selatan, dan Bandar Lampung, sedangkan Tanggamus, dan Pesisir Barat diperkirakan relatif aman.
Ancaman kekeringan hampir di seluruh wilayah Lampung patut menjadi perhatian kita semua. Tanpa antisipasi cepat, persoalan kekeringan akan berujung pada menurunnya tingkat produksi padi di Lampung akibat para petani mengalami gagal panen.
Karena itulah, kita patut mengapresiasi langkah antisipasi Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Lampung yang telah menyebar 372 unit pompa air ke seluruh wilayah Lampung. Satu unit pompa air bias mengairi 3 hektare sawah petani.
Kita mengimbau semua pemerintah daerah di Lampung bersinergi. Jika tidak, potensi kemarau panjang 2020 akan menjadi ancaman serius produksi padi di tanah lada yang dalam tiga tahun terakhir justru tengah mengalami peningkatan produksi. Penyelesaian persoalan kekeringan melalui pompanisasi merupakan solusi jangka pendek. Perlu adanya solusi jangka panjang agar para petani tidak resisten terhadap ancaman kekeringan manakala musim kemarau kembali datang.
Kuncinya adalah kepiawaian memanajemen air. Pembangunan titik-titik sumur bor dan embung-embung baru di berbagai daerah sentra produksi padi di Lampung mutlak harus terus dilakukan. Pompanisasi juga tidak akan berjalan tanpa sumber air memadai. Patut pula disadari kekeringan juga karena ketersedisan air menurun akibat daya tangkap air yang sangat rendah. Daya tangkap air di taman nasional, hutan lindung, dan kawasan produksi di Lampung hanya 50% karena area yang kian gundul.
Way Sekampung yang selama ini menjadi patokan, tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan. Penurunan debit air saat ini merupakan akibat dari kerusakan hutan. Hal itu menyebabkan semua irigasi teknis harus mengalami pasokan air bergilir. Kebijakan yang semula hanya membangun dam harus pula diimbangi dengan pengembalian fungsi area serapan air. Pengembalian fungsi tersebut terkait daya dukung dan daya tampung. Jika tidak, sangat wajar petani Lampung melulu krisis air. n

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR