KALIANDA (Lampost.co) -- Seperti tahun sebelumnya, ketika memasuki musim tanam yang bertepatan dengan musim kemarau panjang, tabung gas elpiji ukuran 3 kilogram di Kecamatan Palas, Lampung Selatan, langka. Adapun tabung gas melon itu didapatkan, namun harganya meroket hingga tembus Rp30 ribu ditingkat pengecer.

Berdasarkan penelusuran Lampost.co, langkanya tabung gas melon bersubsidi itu lantaran meningkatnya jumlah permintaan konsumen. Namun, peningkatan itu didominasikan para petani untuk kebutuhan sebagai bahan bakar mesin sedot air untuk mendukung mengairi sawah petani yang kekeringan.



Petani yang telah memodifikasi mesin pompa berbahan bakar tabung gas elpiji itu dinilai petani lebih hemat ketimbang berbahan bakar bensin atau premium. Apalagi disaat musim kemarau panjang, petani sangat membutuhkan pasokan air untuk menyambung kehidupan melalui tanaman padi.

Seperti yang diungkapkan, Ketua Gapoktan Desa Baliagung, Dewa Aji Tastrawan mengatakan mesin pompa yang dimodifikasi berbahan bakar tabung gas bisa menghemat pengeluaran saat mengairi lahan sawah milik petani. Cara itu diakuinya telah berjalan beberapa tahun yang lalu.

Dia mengatakan dengan menggunakan bahan bakar bensin premium dalam sehari bisa mengeluarkan biaya hingga Rp100.000. Sedangkan, menggunakan tabung gas elpiji hanya mengeluarkan biaya sebesar Rp25.000.

"Kalau mesin dinyalakan dari pukul 07.00 hingga 17.00 cuma habis tabung gas elpiji 3 kilogram yang harganya saat ini Rp25.000. Ya, kalau pakai bahan bakar bensin premium bisa menghabiskan 8 - 9 liter," ujarnya.

Hal senada diungkapkan, Kabid Elpiji Hiswana Migas Lampung Adi Chandra mengaku kelangkaan disebabkan permintaan gas elpiji yang tinggi untuk mendukung mengairi sawah petani yang kekeringan. "Penyebab kelangkaan masalah klasik yang setiap tahunnya terulang terus bila memasuki musim tanam yang bertepatan dengan musim kemarau panjang. Petani menggunakan elpiji untuk menjalankan mesin sedot air untuk mengairi sawahnya," ujarnya.

Dia mengatakan, petani telah memodifikasi mesin pompa berbahan bakar tabung elpiji. Hal itu dilakukan untuk menghemat biaya bahan bakar untuk mesin penyedot air. "Petani menggunakan Bright gas 5,5 kg atau kayu untuk memasak dirumah, sementara yang 3 kg untuk alat penyedot air untuk mengairi sawahnya," ujarnya.

Dia mengaku saat ini bukan waktu yang tepat untuk saling menyalahkan. Petani menggunakan elpiji untuk kepentingan lain tentu menyalahi aturan. Tetapi secara kondisional hal itu harus dimaklumi. Adi mengemukakan, saat ini harus dicarikan solusi membantu para petani sehingga tidak menggunakan elpiji 3 kg.

"Harus ada solusi, karena saya rasa kurang tepat juga menyalahkan mengingat ini rakyat miskin yang sebenarnya harus ada perhatian serius dari pemerintah daerah," ujarnya.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR