GUNUNG SUGIH (Lampost.co) -- Selain sistem sesi dua kelas, siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri Bumiratunuban terpaksa belajar dibengkel. Pasalnya sejak berdiri SMKN Bumiratunuban kekurangan ruang kelas.

Kepala SMKN Bumiratunuban Indra Mulya mengatakan saat ini sekolahnya kekurangan lima ruang kelas dan terpaksa kelas XI belajar pada siang hari. Saat ini yang ada lima ruang kelas, ruang praktek siswa dan dua laboratorium komputer.



"Beberapa kelas siswa sejak awal ditempatkan di bengkel dan laboratorium. Bahkan kantor guru terpaksa menggunakan lab komputer," kata dia.

SMKN Bumiratunuban sementara memiliki lima ruang kelas dengan jumlah siswa sebanyak 304 terbagi dalam 13 rombongan belajar. Adapun jurusan yang dibuka yakni teknik komputer jaringan, teknik pengelasan, dan teknik kendaraan ringan.

"SMKN Bumiratunuban masih kekurangan ruang kelas, ruang guru, ruang kepala sekolah, perpustakaan, dan bengkel untuk jurusan teknik pengelasan," kata dia.

Untuk diketahui, SMKN Bumiratunuban berdiri di Kampung Wates berbatasan dengan wilayah Pesawaran itu berdiri sejak 2015 lalu. Saat itu terdiri dari tiga ruang kelas dan bengkel mesin otomotif serta memiliki 20 unit komputer. Jumlah siswa SMKN Bumiratunuban tahun 2015 sebanyak 63 siswa dan tahun berikutnya 165 siswa.

Bantuan yang pernah diterima diantaranya dua ruang praktek siswa  senilai Rp600 juta dari dana alokasi khusus (DAK) 2016. Tahun berikutnya mendapat bantuan gedung untuk jurusan Teknik Komputer Jaringan (TKJ) yang kini berfungsi sebagai ruang kantor dan guru. Tenaga pengajar di SMKN Bumiratunuban sebanyak 36 guru dan sembilan staf tata usaha (TU). Guru yang berstatus pegawai negri sipil (PNS) sebanyak lima orang.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR