KALIANDA (Lampost.co)--Lantaran tak kunjung turun hujan, petani di Desa Bumidaya, Kecamatan Palas, Lampung Selatan, ketar ketir. Pasalnya, tanaman padi usia berkisar 30 hari hingga 45 hari terancam rusak, bahkan puso akibat kekeringan. 

Berdasarkan pemantauan Lampost.co Jum'at (10/8/2018), ratusan hektare tanaman padi alami kekeringan hingga alami retak-retak. Namun, sebagian kecil masih ada yang memanfaatkan sumur bor untuk mengairi lahan mereka. 



Seperti yang diungkapkan, Winarya (38) petani asal Desa Bumidaya saat ditemui Lampost.co mengatakan dirinya makin terhimpit dengan biaya tambahan untuk mengairi lahan sawah miliknya. Sebab, dengan musim kemarau ini tanamannya terancam rusak akibat kekeringan. 

"Jelas, kami menjerit dengan kondisi kemarau yang kian panjang. Tanaman padi yang kini usianya 32 hari kering kerontang. Saat ini saya sudah kehabisan modal untuk mengairi lahan sawah. Saya hanya pasrah saja," kata dia. 

Hal senada diungkapkan, Kepala Desa Bumidaya Dudi Hermana mengatakan sebagian besar tanaman padi di desa tersebut alami kekeringan. Namun, untuk menyelamatkan tanaman padi sebagian petani rela keluar modal tambahan. 

"Lokasi sawah disini tadah hujan. Sebagian besar sawah alami kekeringan. Hanya segelintir petani manfaatkan sumur bor agar sawah mereka terairi," kata dia. 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR