HUKUM adat mengatur mengenai hubungan seseorang dengan kerabatnya, aturan-aturan tersebut harus sesuai dengan keadaan sosial dalam masyarakat yang bersangkutan berdasarkan dari sistem keturunannya. Aturan itu disebut hukum kekerabatan adat.

Salah satu sifat masyarakat hukum adat yang paling penting dan menonjol adalah komunalistik, religius, serta kekeluargaan yang sangat kental. Kebersamaan atau ukhuwah oleh masyarakat adat dinilai lebih penting daripada kepentingan individual.



Dalam hukum adat Lampung yang menganut sistem kekerabatan patrilineal yang kuat, yang disebut sebagai orang tua bukan saja dalam garis lurus ke atas, tetapi juga dalam garis lurus ke samping, seperti para paman dari pihak bapak, paman dari pihak ibu, saudara-saudara sepupu, hingga hubungan pertalian terus ke atas, misalnya kakek, buyut, canggah, dan poyang.

Dari masing-masing hubungan kekerabatan tersebut mempunyai peran, fungsi, dan akibat sosial berupa kewajiban-kewajiban, serta kaidah-kaidah tertentu pada pihak-pihak yang bersangkutan.

Di lingkungan masyarakat adat Lampung anak dituntut tidak hanya hormat kepada ayah dan ibunya, tetapi anak juga wajib hormat kepada saudara-saudara ayah dan ibunya, kerabat garis keturunan ayah terutama ibunya. Kedudukan para paman dari sudara ibu merupakan pihak kelama atau kelamo yang stratanya lebih dihormati dibandingkan dengan paman pihak lain. Adapun keluarga atau saudara perempuan dari pihak ayah disebut benulung, sedangkan tugas benulung memiliki tempat tersendiri dalam setiap acara-acara adat, seperti menjadi pematu di setiap kegiatan adat.

Dalam sistem kekerabatan masyarakat adat Lampung, khususnya Lampung Pepadun Marga Sungkai Bungamayang, terdapat stratifikasi atau tingkatan kedudukan dalam keluarga, masing-masing memiliki kedudukan, tugas, dan tanggung jawab yang berbeda dalam setiap pelaksanaan upacara cara adat. Terdapat pengelompokan nama kekerabatan berdasarkan hubungan persaudaraan dan pertalian darah, baik dari pihak bapak, pihak ibu, kakak, adik, serta seterusnya yang memiliki nama dan sebutan atau panggilan (tutor) berbeda-beda.

Hukum kekerabatan adat dapat dibagi menjadi tiga bagian, yakni kedudukan anak, kedudukan orang tua, dan kedudukan anak dengan kerabatnya. n

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR