BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Terduga bandar narkoba WA alias Awi, warga Panjang tewas usai dihadiahi timah panas oleh Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Lampung. kemudian pelaku lainnya Zuk, Zul, RM warga Pekanbaru, Riau yang berperan sebagai kurir, ikut ditangkap.

Kepala BNNP Lampung Brigjen Tagam Sinaga mengatakan, awalnya pada Sabtu (16/3/2019) BNNP Lampung mendapatkan informasi akan ada transaksi narkoba dalam jumlah besar.
Keesokan harinya, (17/3/2019) BNN mendapatkan informasi WA akan bertransaksi dengan tiga kurir tersebut, di sekitar Hotel Sriwijaya, Lampung Tengah, tempat para kurir menginap.
Saat itu, WA bertransaksi dengan kurir pada Minggu malam. Ia menerima sabu 1,5 kg yang dikemas dengan bungkus teh asal China lewat jendela mobil Daihatsu Ayla B 8581 XO warna silver.



Aparat pun sempat memberikan tembakan peringatan, namun WA kabur dan melaju kencang hingga mengalami kecelakaan dan masuk ke parit, mobil WA pun rusak berat di bagian depan.
Sementara di lokasi lain yang tak jauh, tiga kurir tersebut melarikan diri, namun BNNP menembak mereka dibagian kami, sehingga ketiganya ditangkap.

"Bandar yang meninggal saat itu mengalami kecelakaan sudah kita evakuasi dan bawa ke RS terdekat tapi ia meninggal kehabisan darah, ada bukti visumnya," ujar Tagam didampingi Joko Widodo, pria berpangkat Kombes yang menjabat sebagai Irwas BNN RI.

Tagam menambahkan, barang haram tersebut berasal dari Pekanbaru Riau. Peredaran narkoba saat ini juga modusnya baru, yakni barang bersal dari Malaysia kemudian transit di Pekanbaru melalui jalur laut. Kemudian dari Pekanbaru, didistribusikan ke Lampung dan provinsi lainnya. Barang asal Pekanbaru ini beberapa bulan terakhir kerap diungkap baik oleh BNN maupun pihak kepolisian.

Pola distribusi dari pekan baru mulai muncul karena, pola penjagaan dari darat dan laut sangat ketat oleh aparat. Bisakah pola distribusi barang dalam jumlah besar berasal dari Aceh dan Medan, Sumatera Utara. Karena selalu ditekan, pola distribusi pun berubah.

"WA ini memang sudah lama jadi bandar di Lampung, dan sudah jadi target kita, saya minta, berhenti lah jadi Bandar, jualan yang lain, jadi petani kopi atau kerja lain kan bisa, kalau masih ya terpaksa berhadapan dengan kita," kata alumnus Akabri 1988 itu.


Sementara kurir bernama Zuk, mengaku baru sekali menjadi kurir. Ia diperintahkan oleh seseorang bandar bernama Ali, warga Pekanbaru Riau.
"Saya dan kawan- kawan-kawan cuma dijanjiin uang,tapi enggak tahu dikasih berapa, cuma dikasih mobil sama ongkos minep hotel," katanya.
Sejak januari 2018, total ada 10 Bandar Maupun Kurir yang tewas karena melawan, saat ditangkap, 9 diantaranya tewas ditembak, dan 1 orangtewas karena kecelakaan. 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR