DUA elite bangsa yang baru-baru ini menghentak warganet adalah Prabowo Subianto dan Sukmawati Soekarnoputri. Entah mengapa kedua tokoh nasional itu membuat pernyataan kontroversial.

Barangkali keduanya tidak bermaksud untuk mengeluarkan ucapan kontroversial. Yang mereka suarakan adalah kejujuran tentang kondisi bangsa. Meski itu suara pribadi masing-masing, karena keduanya adalah tokoh bangsa, di sinilah pangkal persoalannya.



Prabowo mengutip pesan dari novel perang berjudul Ghost Fleet (Armada Hantu) yang terbit pada 2015. Pesan yang di kemudian hari menjadi pernyataan yang mengguncang lini masa media sosial. Perkataan itu adalah “Indonesia bubar pada 2030”.

Entah kenapa dia menyampaikan ihwal tersebut tepat saat menghadiri peresmian dan bedah buku tentang pemikiran ayahnya berjudul Nasionalisme Sosialisme dan Pragmatisme Pemikiran Ekonomi Politik Soemitro Djojohadikusumo di Auditorium Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Depok, Minggu (18/3).

Ya, pernyataan Prabowo itu menjadi buah bibir setelah akun Facebook mengunggah pidatonya. "Kita masih upacara. Kita masih menyanyikan lagu kebangsaan. Kita masih pakai lambang-lambang negara. Gambar-gambar pendiri bangsa masih ada di sini, tetapi di negara lain mereka sudah bikin kajian-kajian, yakni Republik Indonesia sudah dinyatakan tidak ada lagi tahun 2030," kata Prabowo dalam video yang diunggah pada Senin, 19 Maret 2018.

Media Indonesia (grup Lampung Post) menyebut langkah Prabowo itu meniru Donald Trump. Harian ini secara ringkas menyamakan strategi politik keduanya. Dari perbandingan ini, bisa dilihat bagaimana eksploitasi pesimisme dan ketakutan sosial (politik) dijadikan muatan utama substansi kampanye politik.

Kemudian, Sukmawati Soekarnoputri, yang membacakan puisi berjudul Ibu Indonesia dalam acara 29 Tahun Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week 2018, Kamis (29/3). Puisi itu menjadi viral di media sosial dan menuai polemik. Sejumlah pihak menilai puisi tersebut melecehkan Islam.

Terlepas dari pro-kontra apa yang dilontarkan keduanya, suka-tidak suka pastilah muncul beragam sudut pandang terkait apa yang diucapkan Prabowo maupun Sukmawati. Namun, sebagai tokoh, yang terlupakan adalah kebebasan bersuara itu mesti dipertanggungjawabkan dan ditimbang dengan hati-hati. Ingatlah ungkapan lama “mulutmu harimaumu”. Presiden kelima Megawati Soekarnoputri bilang sekarang Indonesia sudah memasuki era kebebasan, tapi kebebasannya kebablasan.

Namun, yang ingin saya tekankan di sini adalah belum selesainya persoalan, izinkan saya menyebutnya dengan keindonesiaan. Ya, soal keindonesiaan ini tampaknya belum tuntas dipelajari dan dikhidmati elite bangsa ini.

Keindonesiaan ini akan selalu terusik manakala elite bangsa hanya menjadikan apa yang telah diwariskan dan diajarkan para pendiri bangsa ini sebagai pemanis bibir. Tidak ada implementasi atau penerapan untuk kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih bermartabat. n

EDITOR

Abdul Gofur

TAGS


KOMENTAR