KAMIS (5/4), sekitar pukul 13.00, usai menjemput anak sekolah, saya mampir ke salah satu SPBU di Bandar Lampung untuk mengisi bahan bakar sepeda motor. Saat itu, antrean kendaraan, baik roda dua maupun roda empat, tampak mengular di jalur pengisian bahan bakar jenis premium. 
Kebetulan, ketika itu saya mengisi sepeda motor menggunakan pertamax dan beruntung saya hanya menunggu satu sepeda motor. Tempat mesin premium dan pertamax yang menjadi satu membuat pemandangan tampak timpang. Di jalur pertamax, nyaris tanpa pengendara. Kondisi yang sangat berbeda di jalur pengisian premium.
Saat hendak tiba giliran sepeda motor saya diisi bahan bakar, seorang petugas SPBU yang secara bergantian mengisi premium dan pertamax itu mengeluh ke rekannya. "Kok enggak habis-habis (premium) ya? Padahal sudah siang! Mana masih antre aja!" kata petugas tersebut.
Sontak saya terkejut mendengar keluhan petugas itu. Spontan saya lalu bertanya. "Kenapa, Mbak, malas ya isi premium?" celetuk saya dan petugas tersebut hanya terdiam.
Sepeninggal dari SPBU tersebut, hati saya bergumam. Alangkah menyedihkannya kehidupan saat ini. Kepedulian bagaikan hal yang langka. Sama langkanya seperti mendapatkan premium. Lebih mirisnya, tidak sedikit orang yang kini sudah kehilangan rasa empatinya. Saya yakin, mereka yang rela antre kepanasan demi bisa mendapatkan premium karena mereka sangat membutuhkan bahan bakar tersebut.
Premium kini memang menjadi barang yang cukup sulit didapat, terutama di Bandar Lampung. Konon, perusahaan pelat merah penyalur bahan bakar di negeri ini mengurangi pasokan ke SPBU agar kuota premium yang diberikan cukup hingga akhir tahun. Dari sebelumnya rata-rata 16 kiloliter (kl) per hari untuk tiap SPBU kini hanya menjadi 8 kl.
Padahal, panjangnya antrean kendaraan di setiap SPBU yang masih menyediakan bahan bakar subsidi tersebut sejatinya menunjukkan secara nyata premium adalah primadona yang menjadi kebutuhan banyak orang.
Presiden Joko Widodo bahkan angkat bicara terkait kelangkaan premium di sejumlah daerah. Presiden menginstruksikan Kementerian ESDM dan PT Pertamina untuk menjaga pasokan bahan bakar tersebut.
Kita berharap kesusahan masyarakat yang selalu antre berburu premium dapat segera berakhir. Sediakanlah bahan bakar sesuai dengan kebutuhan yang ada. Jangan ada kesan seolah “memaksa” masyarakat untuk menggunakan pertalite atau pertamax.
Berikanlah kebebasan kepada masyarakat untuk memilih bahan bakar pilihannya sesuai dengan kondisi keuangan dan kebutuhannya. Bukankah, secara kualitas, konon setiap jenis bahan bakar memiliki keunggulan yang berbeda-beda.
Terlepas alibi apakah karena faktor membengkaknya subsidi BBM atau apapun alasan lainnya, sejatinya itu adalah sudah menjadi tugas para pemangku kepentingan di negeri ini untuk mengatasinya, bukan justru membebani masyarakat yang nyata-nyata tidak gratis untuk mendapatkan premium. n
 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR