KEBUN Perjuangan seluas 1 hektare itu berada di Kelurahan Seputihjaya, Gunungsugih, Lampung Tengah, menjadi destinasi agrobisnis alternatif bagi yang merindukan wisata edukatif. Kebun perjuangan sengaja dibuat Sumarsono, pamong desa setempat, untuk mengenalkan dan memberi pendidikan pertanian pada masyarakat.

Sumarsono sengaja menanam kebunnya dengan berbagai tanaman buah-buahan dan sayuran. Tujuannya agar hasil panen bisa dijual dan dimanfaatkan warga sekitar.



Sumarsono juga memproduksi pupuk organik yang dia gunakan untuk tanaman di kebunnya serta dibagikan pada masyarakat. Tujuannya agar masyarakat memahami bahwa pupuk organik jika digunakan dengan tepat hasil panen tidak kalah dengan pupuk kimia.

Hampir setiap hari Sumarsono dan pekerjanya menerima kunjungan baik pelajar, kelompok tani, maupun kelompok wanita. Dia mengungkapkan selama ini dunia pertanian banyak ditinggalkan anak muda karena hasilnya tidak menjanjikan. Selain terkendala karena biaya produksi dan lahan hasil panen juga tidak menjanjikan dengan berbagai alasan.

"Saya sudah buktikan itu bukan kendala dan harapannya generasi muda dan masyarakat mencintai dunia pertanian," kata dia, beberapa waktu lalu.

Tujuan Sumarsono ini juga didukung kalangan pendidikan sehingga bayak sekolah tingkat kanak-kanak hingga kejuruan yang berkunjung ke sana. Dengan lugas Sumarsono menerangkan bahwa jika mau belajar dan berusaha tidak ada kendala dalam pertanian.

Meski berlatar belakang mekanik bengkel, Sumarsono pantang menyerah dan berusaha mencintai pertanian. Kebun perjuangan juga ditanami buah naga, jambu kristal, buah tin, padi benih lokal, dan kolam lele.

Untuk merawat kebun perjuangan itu, Sumarsono mempekerjakan sejumlah karyawan yang dibiayai dari hasil panen. Pada kebun perjuangan itu mata dimanjakan dengan tanaman buah naga dan jambu kristal yang berjajar rapi.

Belum lagi beragam bibit buah-buahan dan sayuran yang sengaja disiapkan untuk dibagikan langsung pada warga yang datang dan ingin menanam. Bibit padi hibrida lokal MSP, petai, jengkol, jambu air, bawang, jambu kristal, misalnya.

Bertanya

Warga dan siswa yang datang bisa melihat dan bertanya langsung bagaimana cara menanam, merawat, dan memanennya. Sumarsono yang banyak belajar cara bercocok tanam dengan Surono Danu langsung menjelaskannya dengan detail.

Siswa dan warga yang berkunjung bisa praktik langsung cara menanam dan merawat tanaman dengan baik. Begitu juga cara membuat pupuk organik dengan tepat. Sebab baku utama mudah didapat dan prosesnya juga tidak rumit. Siswa dan warga bisa mempraktikkan langsung penggunaan pupuk organik itu.

Saat menerima kunjungan siswa Taman Kanak-kanak Bumi Kencana Seputihagung, misalnya. Sumarsono mengajak dan mengenalkan beragam tanaman yang ada di kebunnya. Siswa kanak-kanak itu diajak mengenal nama buah-buahan dan rasanya.

Sumarsono juga meminta siswa menyebutkan beberapa nama buah-buahan dan memberinya hadiah buah naga serta jambu kristal. Adapun untuk siswa SMK dan kelompok tani diajari cara menanam yang tepat serta membuat pestisida juga pupuk cair organik.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR