MELIHAT dan mendengar ‘do’a sesat’ Neno Warisman kemarin, dan dia adalah bahagian dari tim sukses Paslon Capres No.2 akhirnya saya dapat menyimpulkan bahwa yang dilakukannya adalah kesengajaan dan penuh dengan penjiwaan yang mendalam (terisak isak). Oleh sebab dilakukan secara berulang maka ini semua adalah kebohongan stadium 4. Mari kita lihat faktanya :

Pertama mendisain ijtima ulama, menggiring opini umat Islam, dengan cara mengatakan Prabowo menggandeng beberapa Ulama Populer sebagai calon pasangannya Prabowo. Tapi tidak dilakukan, malah menggandeng Sandi Uno (pengusaha) dengan pertimbangan materi. Sandi pun disebut Ulama Millenial. 



Kedua, kasus hoaks Ratna Sarumpaet pun membuka fakta bukan dikriminalisasi, dan rakyat Indonesia disuguhkan sebuah sandiwara yang hampir dijadikan alasan untuk menyerang bertubi tubi ke Pemerintahan Joko Widodo.

Ketiga, untuk membuat lemah Joko Widodo dan meningkatkan elektabilatas Prabowo, KPU sebagai penyelenggara Pemilu juga dikriminalisasi dan didelegitimasi. Berbagai kebijakan KPU dipelintir sedemikian rupa supaya bangsa ini tidak percaya dengan independensi KPU sebagai penyelenggara Pemilu. Soal DPT ganda sebanyak 30 juta lebih, soal box pemilu dari kardus, soal 9 kontainer KTP tercoblos dan soal debat yang sudah diatur dan berpihak. Semua tuduhan yang mengada ada dan hiaks itu, sasarannya hanya satu, yaitu menggertak KPU dan membangun opini bahwa KPU itu tidak profesional, penuh kecurangan, tidak independen, tidak netral, dan pantas untuk ditolak hasil pemilunya kalau Joko Widodo yang menang. 

Keempat, doa Neno Warisman adalah puncak dari kebohongan yang dibangun. Dikatakan bahwa tidak akan ada lagi orang menyembah Allah swt. Kalau kubunya kalah.  Terkutuklah orang orang yang mendisain ‘do’a sesat’ ini. Apa orang orang ini tidak tahu bahwa Allah swt itu Maha Mengetahui dan Maha Pemberi Azab.
 

BERITA LAINNYA


EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR