BENCANA alam terus-menerus menghantui Lampung. Kali ini banjir bandang dan tanah longsor akibat hujan deras yang terjadi di Pesisir Barat, Minggu (28/4), telah menewaskan 6 orang, 2 orang luka berat, 1 sekolah rusak berat, 8 unit rumah rusak.

Tidak hanya itu, puluhan hektare sawah rusak, serta jembatan dan jalan khususnya Jalur Lintas Barat yang tertimbun longsor juga rusak parah. Situasi dan kondisi ini makin diperparah dengan kondisi alam Pesisir Barat yang dilanda musim hujan.



Sehari sebelumnya, Sabtu (27/4), banjir juga melanda wilayah lain di Provinsi Lampung. Meski tidak menelan korban, puluhan rumah di Dusun Trimulyo I, Desa Karangraja, Kecamatan Merbaumataram, Kabupaten Lampung Selatan terendam banjir.

Sepekan sebelum pencana tersebut, tepatnya Sabtu (20/4), banjir bandang melanda tiga kecamatan sekaligus di Kabupaten Pesawaran. Musibah tersebut menyebabkan seorang warga meninggal dunia dan merusakkan sejumlah infrastruktur.

Bencana terutama yang disebabkan fenomena alam seperti halnya banjir, tanah longsor, puting beling hingga gempa bumi memang amat sukar diprediksi. Maka yang terpenting adalah bagaimana sikap kita semua siap sedia ketika bencana alam melanda.

Bencana alam boleh saja terjadi di tempat yang berbeda-beda. Namun, rasa sakit dan kedukaan yang meliputinya adalah milik kita semua. Terlebih bangsa ini menjunjung tinggi semangat persatuan dan kesatuan, senasib serta sepenanggungan.

Karena itulah, bencana yang saat ini tengah melanda Pesisir Barat harus kita hadapi bersama. Jangan biarkan masyarakat di Pesisir Barat sebatang karang mengatasi persoalan yang tengah terjadi. Seluruh masyarakat Lampung harus bahu-membahu.

Ke depan patut dirumuskan strategi penanggulangan bencana bersama. Seluruh pemerintah daerah di provinsi ini dengan berkoordinasi melalui Pemerintah Provinsi harus berpadu mengatasi bencana alam di mana pun dan kapan pun ia muncul.

Bantuan itu bisa suplai logistik pangan, tenda darurat, obat-obatan. Bisa pula bantuan berupa alat-alat berat beserta personel lapangan. Jangan sampai adanya otonomi daerah justru menciptakan egoisme sektoral dan kewilayahan.

Ketika bencana berskala nasional semisal Tsunami di Lampung Selatan, hampir seluruh wilayah hingga luar Lampung turut membantu. Kita berharap semangat dan soliditas demikian itu dapat terus ada tanpa memandang besar kecilnya skala bencana.

Dengan semangat persatuan dan kebersamaan menghadapi bencana, dampak akibat bencana jauh lebih mudah ditanggulangi. Keterbatasan anggaran, suplai logistik, obat-obatan, di suatu daerah dapat diatasi melalui bantuan daerah lain.

Terlebih tiap pemda dari provinsi hingga kabupaten/kota memiliki Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Sudah sepatutnya lembaga ini bekerja lintas regional atau wilayah. Di mana ada bencana, di situ ada kebersamaan dalam menghadapinya.  

 

 

EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR