INDONESIA masih berkabung. Aksi teror terjadi beruntun di Surabaya dan Pekanbaru. Peristiwanya menghiasi media massa nasional dan lokal serta berseliweran pula di media sosial. Belum termasuk penangkapan terduga teroris di Cianjur, Jawa Barat, dan Tangerang, Banten, serta terbaru di Pesawaran, Lampung. Peristiwa lain yang patut menjadi perhatian adalah penyerangan polisi di Rutan Mako Brimob, Depok, Jawa Barat.

Dari berbagai berita di media massa, satu hal yang menarik perhatian adalah sudut pandang yang mendamaikan dan menyejukkan, sekaligus tetap menebar optimisme melawan terorisme. Ini alternatif di tengah maraknya sudut pandang berita tentang aksi teror itu sendiri: jumlah korban, jenis bom yang meledak, siapa terduga teroris, dan lainnya.



Kompas, misalnya, memberi judul berita utama Bersatu untuk Indonesia pada edisi Senin, 14 Mei 2018. Pada hari yang sama, Media Indonesia, memilih lebih humanis lagi Lihat Hatimu, Saudaraku. Masuk ke lokal Lampung, Lampung Post mengajak masyarakat Bumi Ruwa Jurai untuk bersatu dengan seruan #Lampung Lawan Teror.

Kausalitas Terorisme-Media

Sejatinya, ada kausalitas yang begitu dekat antara terorisme dan media massa. Jika betul terorisme bertujuan menebar ketakutan, menancapkan pengaruh, dan melegitimasi aksi kejamnya, media massalah tempat jaringan terorisme untuk bernarsis ria.

Firman Imaduddin, editor dan peneliti di Remotivi, mengungkap simbiosis terorisme dan media. Tayangan baku tembak Densus 88 Antiteror Polri dengan kelompok teroris pimpinan Dr Azahari di Malang, 2005, misalnya. Pilihan media elektronik menyuguhkan berita, bahkan siaran langsung, secara sensasional sejalan dengan tujuan terorisme yang ingin mendulang perhatian. Simbiosis mutualisme terjadi: televisi memperoleh rating tinggi dari gambar seru nan mendebarkan, jaringan teroris mendapat “iklan gratis” untuk eksistensi mereka.

Di media cetak, Firman Imaduddin merujuk analisis berita-berita The New York Times terkait 60 ribu lebih aksi teror mulai 1970 hingga 2012. Penelitian Michael Jetter, profesor Universidad EAFIT, Kolombia, bersama peneliti di Institute for the Study of Labour, Jerman, itu menemukan fakta mengagetkan. Jumlah aksi teror meningkat dari 1.395 serangan pada 1998 menjadi 8.441 serangan pada 2012. Kelompok teroris kian rutin muncul di media. Maraknya berita aksi teror kemudian berkorelasi positif dengan jumlah teror susulan.

Sampai di sini, muncul kesimpulan jangan-jangan media telah ikut berperan menyuburkan radikalisme-terorisme. Alih-alih turut berkontribusi memberantasnya, media malah menjadi corong jaringan teroris untuk menebar ketakutan sekaligus memperluas pengaruhnya. Memang, jaringan teroris yang terang-terangan memanfaatkan media sebagai wahana menebar radikalisme kebanyakan ada negara lain. Namun, apakah media-media di Indonesia, termasuk di Lampung, bersedia ikut menjadi corong mereka? 

Meliput Terorisme

Bermunculannya aksi teror belakangan ini mengingatkan kembali pengelola media massa mengenai bagaimana meliput terorisme. Ada cara-cara spesifik yang tak bisa polos-polos saja ketika merekonstruksi peristiwa teror.

Pada 2015, Dewan Pers telah mengeluarkan pedoman peliputan terorisme berisi 13 poin. Satu di antaranya menganjurkan jurnalis dan media agar menahan diri dari pemberitaan yang berpotensi mempromosikan, serta memberikan legitimasi maupun glorifikasi atas aksi terorisme.

Selain itu, jurnalis dan media sebaiknya menghindari pembeberan secara perinci aksi teror. Mengulas hal-hal tersebut dalam pemberitaan, apalagi lengkap dengan info grafis, sama saja memberi inspirasi bagi kaum radikal untuk menjadi pelaku teror baru.

Sesuai kode etik jurnalistik, jurnalis dan media juga wajib memverifikasi secara ketat, jangan sampai teperdaya oleh isu yang ternyata berasal dari jaringan terorisme, dengan tujuan menciptakan kepanikan masyarakat. Tujuan lain disiplin dalam verifikasi tentu berkaitan dengan posisi terduga teroris beserta keluarganya. Jangan sampai terjadi penghakiman oleh pers terhadap orang yang masih berstatus terperiksa atau terduga teroris, yang bisa menimbulkan trauma bagi keluarganya.

Berpihak pada Perdamaian

Dengan memahami kausalitas terorisme dan media, lalu mempraktikkan peliputan yang benar soal terorisme, media akan berada pada posisi berpihak pada perdamaian dan upaya menangkal terorisme. Namun, keberpihakan di sini bukan berarti menghilangkan makna independensi media dan jurnalisnya.

Dalam konteks aksi teror, memilih berpihak pada upaya melawan terorisme justru esensi independensi itu sendiri. Media justru mengambil sikap dengan mengutamakan kepentingan publik. Tidak berposisi netral, yang memang berbeda maknanya dengan independen, adalah pilihan terbaik demi kemanusiaan. 

Bahkan, ada kewajiban bagi jurnalis jika mendapat informasi terkait rencana aksi teror. Ketimbang menjadikannya bahan liputan yang eksklusif, jurnalis dan medianya wajib memberi tahu rencana pengeboman kepada aparat keamanan. Ini pilihan yang justru menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi jurnalis dan kelompok medianya.

Selain berpihak pada upaya melawan terorisme, jurnalis dan media dapat mengambil pilihan lebih humanis lagi. Menerapkan jurnalisme advokasi bisa menjadi alternatif. Jurnalis dan media bisa menjadi semacam penuntun bagi kaum radikal untuk kembali ke jalan damai.

Jurnalis dan media bisa mengarahkan liputannya pada upaya-upaya deradikalisasi. Tak menutup kemungkinan mengangkat kisah tobatnya narapidana teroris. Khairul Ghazali yang terlibat perampokan Bank CIMB Niaga di Medan hingga penyerangan Polsek Hamparan Perak menjadi contoh tobatnya eks anggota kelompok teroris. Ia bahkan telah mendirikan pesantren.

Hati nurani akhirnya menjadi kunci perspektif jurnalis dan media menyikapi peristiwa teror, pengusutan kasusnya, maupun ketika geger penangkapan terduga teroris. Jauh hari Bill Kocavh dan Tom Rosenstiel dalam Elemen-Elemen Jurnalisme menekankan pentingnya kembali ke hati nurani saat memutuskan menulis atau tidak menulis, memberitakan atau tidak memberitakan.

Dalam konteks terorisme, jurnalis dan media patut menimbang kepentingan yang lebih luas ketika hendak menayangkan berita aksi teror. Apakah aksi teror akan berhenti atau malah merajalela, apakah teroris akan setop beraksi atau malah gembira aksinya terpublikasi luas? Apakah terduga teroris, yang ternyata bukan teroris dari hasil penyelidikan, tak trauma? Semua kembali ke hati nurani. Dan, sudut pandang yang mendamaikan, menyejukkan, tetapi tetap optimistis menghadang terorisme bisa menjadi pilihan atas dasar hati nurani tadi.

 

Artikel di atas juga dapat di baca di www.lampungpost.id

 

 

 

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR