SAHABAT, apakah kalian pernah melihat pelangi? Setelah hujan, pelangi muncul dengan warna-warninya. Ada merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Pelangi terdiri atas warna yang berbeda. Justru karena perbedaan itulah pelangi menjadi indah.

Nah, bagaimana dengan teman-teman di kelas dan di rumah? Apakah ada yang berkulit putih, cokelat, atau hitam? Ada suku Lampung, Jawa, Minang, Batak, hingga Papua. Jika seperti itu, artinya hidup kita indah, punya teman dari berbagai latar.



Salah satu cendekiawan muslim, M Mukri, mengatakan keberagaman yang ada di Indonesia, secara khusus di Lampung, adalah anugerah. Oleh karena itu kita harus merawat keberagaman dalam hidup damai dan toleransi.

Hal itu dikatakan Mukri, yang juga Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung, kepada reporter cilik Lampung Post saat bertamu ke kampus setempat, baru-baru ini. Yuk, simak isi wawancara reporter cilik dengan M Mukri berikut.

Assalamualaikum, selamat siang, Pak. Perkenalkan kami adalah reporter cilik Lampung Post. Saya Ramania Maulida Safa, bersama Veronica Gracesia Mulya Jelita, dan Iktiara Aini. Kami ingin mewawancarai Bapak tentang toleransi dalam keberagaman.

Waalaikumsalam, selamat siang dan selamat datang di UIN Raden Intan Lampung. Nama saya M Mukri, rektor UIN Lampung. Silakan, apa saja yang ingin kalian tanyakan.

Bagaimana kondisi masyarakat di Lampung, Pak?

Selain masyarakat asli, penduduk Lampung adalah pendatang dari berbagai daerah. Dari Jawa, Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, hingga Indonesia bagian timur. Oleh karena itu, ada berbagai warna kulit, etnis, agama, hingga golongan di Lampung. Berbagai bahasa dituturkan oleh penduduk daerah ini. Masyarakat Lampung amat beragam atau heterogen.

Apa yang diperlukan untuk mempertahankan kedamaian di tengah masyarakat yang beragam ini?

Toleransi adalah kuncinya. Toleransi adalah sikap saling menghargai di antara perbedaan suku, agama, dan golongan. Penduduk Indonesia beragama, ada Islam, Kristen, Katolik, Buddha, Hindu, dan aliran kepercayaan. Kita bebas memilih agama dan harus toleran kepada pemeluk agama lain.

Dalam Islam dikatakan lakum dinukum waliadin, artinya apa pun agamamu dipersilakan, tetapi agamaku ya agamaku. Sebagai ciptaan Tuhan, kita harus menciptakan damai sejahtera. Misalnya jika melihat ada kecelakaan, langsung tolong. Tidak perlu melihat dulu apa agamanya, apa sukunya.

Apakah nilai Pancasila bisa menjadi dasar kehidupan masyarakat yang beragam?

Ya, ada lima sila pada Pancasila, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan, serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pancasila menjadi pemersatu bangsa. Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu juga.

Demikian luhur falsafah bangsa kita. Pancasila bersifat final, jangan lagi ada pihak yang berpikir untuk mendirikan negara dengan dasar yang lain. Ketahuilah, keberagaman adalah mukjizat dan anugerah dari Sang Maha Kuasa.

Siapa saja pihak yang harus mengajarkan toleransi?

Toleransi adalah pandangan hidup yang harus ditularkan pada semua orang. Kita semua dapat menyebarkan toleransi di tempat belajar, sekolah, dan keluarga. Siapa pun dia, orang tua, dosen, atau politikus, harus memberi teladan hidup yang toleran demi menjaga keutuhan bangsa.

Adakah kearifan lokal yang terkait dengan toleransi?

Ya, ada berbagai filosofi, antara lain nengah nyappur yakni tata pergaulan masyarakat Lampung yang bersedia membuka diri terhadap masyarakat umum. Ada pula sakai sambayan yang berarti tolong-menolong, di dalamnya terdapat semangat kebersamaan dan persatuan.

Apa nasihat Bapak untuk kami?

Jadilah pribadi yang toleran. Agar bisa menjadi orang toleran kita harus punya ilmu terlebih dahulu. Jadi belajarlah dengan tekun. Jika mendapat informasi yang belum bisa dipastikan kebenarannya, jangan buru-buru menyebarkan karena justru bisa menyebabkan konflik. Hormati orang yang lebih tua, sayang pada yang lebih muda. Hiduplah dengan rasa cinta

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR