BUDAYA hukum diartikan oleh Friedman sebagai nilai-nilai dan sikap-sikap anggota masyarakat yang bertalian dengan hukum. Adapun karakter khas dari hukum adat adalah hukum yang tidak tertulis, senantiasa mempertimbangkan dan memperhatikan kondisi psikologis anggota masyarakat, mempertimbangkan perasaan hukum, keadilan, dibentuk, dan diberlakukan oleh masyarakat tempat hukum itu hendak diberlakukan, serta pembentukan hukum terjadi lebih merupakan proses kebiasaan.
Kaitan yang erat antara hukum dan nilai-nilai budaya masyarakat itu ternyata bahwa hukum yang baik tidak lain adalah hukum yang mencerminkan nilai-nilai yang hidup sejak lama, berjalan, diterima dalam masyarakat, serta menjadi pedoman dalam berperilaku, bersikap, dan bertindak bagi siapa saja yang melanggarnya akan mendapatkan sanksi.
Perilaku cempala yang diperluas maknanya berupa perbuatan-perbuatan tercela, seperti mencuri, merampok, korupsi, penyalahgunaan narkoba, dan berzina. Sebab, perilaku tercela tersebut di atas sepatutnya memang telah menjatuhkan wibawa, martabat, dan kehormatan seseorang apabila orang tersebut melakukannya, sehingga makna piil secara luas tentang menjaga nama baik, muruah, integritas diri, dan kehormatan keluarga bagi masyarakat Lampung adalah sebuah kewajiban yang harus selalu dipegang teguh.
Sudah sepatutnya seorang pejabat publik yang memiliki kedudukan terhormat pada jabatan publik, baik di lembaga legislatif, eksekutif, maupun yudikatif, ketika namanya selalu disangkutpautkan dengan perkara baik moral maupun tindak pidana memiliki rasa malu dan tahu diri, Sehingga, mengambil langkah untuk mengundurkan diri, meletakkan jabatannya menyerahkan kepada orang lain yang lebih kompeten dan bersih jauh dari masalah-masalah hukum.

Budaya yang Tergerus



Falsafah hidup orang Lampung tentang piil pesenggiri adalah salah satu bentuk kearifan lokal atau lebih dikenal dengan sebutan local wisdom yang dapat dipahami sebagai usaha manusia dengan menggunakan akal budinya (kognisi) untuk bertindak dan bersikap terhadap sesuatu, objek, atau peristiwa yang terjadi dalam ruang tertentu. Ciri kearifan lokal yang berporos pada proses sebuah kebaikan ketimbang aplikasi semata menjadikannya sangat jauh dari hal yang instan, sehingga menjadi cermin budaya bagi masyarakat, menjadi akar dalam pedoman kehidupan yang turun-temurun, dan menjadi warisan bangsa.
Namun, kini tidak seperti dahulu zaman kian berubah, era globalisasi dan modernisasi memasuki semua negara, termasuk Indonesia, budaya lokal mulai kian tergerus arus. Masyarakat muda yang diharapkan menjadi penerus warisan bangsa terlihat acuh tak acuh, seperti tidak adanya kepedulian dalam pelestarian budaya tersebut.
Tidak berlebihan jika budaya modern banyak menciptakan kerugian-kerugian, terutama pada hal yang bersifat normatif dalam hal budaya lokal, seperti cara berperilaku, makanan-makanan instan, dan gaya hidup yang berporos pada budaya barat. Bahkan ideologi berpikir kesenangan semata (hedonisme) sering terlihat dalam ruang lingkup sosial.
Hingga kini, tidak terkira berapa banyak kearifan lokal yang tersingkir. Bukan hanya secara fisik, berbagai suku terpinggirkan dari wilayahnya, melainkan juga mulai lenyapnya nilai-nilai luhur yang sebelumnya banyak diakui sebagai kekayaan negeri ini.
Lampung yang memiliki falsafah hidup Piil Pesenggiri semestinya bisa menunjukkan dan menjadi contoh dalam upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi di Indonesia karena budaya piil adalah budaya lokal yang sudah mengakar dan mendarah daging pada masyarakat Lampung, terutama yang masih memegang teguh prinsip falsafah hidup orang Lampung. Falsafah hidup Piil Pesenggiri bisa dimasukkan materi dan nilai-nilai mata pelajaran antikorupsi di sekolah, mulai dari sekolah dasar, sehingga nilai piil pesenggiri sudah diketahui sejak dini.
Jangan sampai salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat Lampung ini sedikit demi sedikit hilang ditelan oleh pesatnya perkembangan zaman di era globalisasi dan modernisasi, suatu saat dunia tidak akan ada lagi sekat sehingga setiap orang harus berpegang teguh pada jati diri masing-masing. Sebab, bila tidak bersiap ia hanyut terombang-ambing oleh derasnya perkembangan zaman. Waalahualam bissawab. n

 

loading...

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR