WAY KANAN (lampost.co) -- Kampung wisata Gedungbatin menjadi salah satu tujuan wisata di Way Kanan, baik untuk turis lokal maupun yang berasal dari luar kabupaten, bahkan hingga wisatawan mancanegara. Di kampung ini kearifan lokal menguat sebab masyarakatnya masih melestarikan adat dan budaya yang telah hidup hingga ratusan tahun. 
Kampung yang terletak di Kecamatan Blambanganumpu itu memiliki jarak tempuh dari ibu kota kabupaten ± 60 km dan dari Kecamatan Blambanganumpu ± 20 km. Kampung Gedungbatin merupakan kampung (desa) tertua di Kabupaten Way Kanan, yang terletak di tepi Sungai Way Besai. Gedungbatin sendiri dalam bahasa Lampung bermakna rumah raja.
Di sini, Anda bisa menengok delapan unit rumah tua berusia ± 400 tahun yang merupakan peninggalan budaya dari arsitektur tradisional asli Lampung serta berbagai perabotan antik yang digunakan sebagai perangkat adat dan budaya Lampung. Delapan rumah tersebut hingga kini masih dihuni keturunan langsung dari penghuni pertama maupun yang bertalian keluarga dengan penghuni pertama. Pemandangan di sekitar juga tampak alami dengan berbagai jenis tanaman dan dikelilingi aliran Way Besai.
Pola kearifan tradisional dari penghuni rumah yang terus dipertahankan sampai saat ini membuat Gedungbatin melekat sebagai satu kawasan wisata lestari. Tidak heran, pada 2007 Kampung Gedungbatin diresmikan Sekretaris Jenderal Departemen Pariwisata sebagai kampung wisata lestari.
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Way Kanan Harun Anosa mengatakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Way Kanan terus berupaya memaksimalkan dan memajukan potensi wisata yang ada di Way Kanan. Menurutnya, kampung wisata lestari Gedungbatin juga memiliki potensi wisata ekologi, budaya, dan petualangan, serta beragam atraksi wisata lainnya yang bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.
Harun melanjutkan Kabupaten Way Kanan terletak di ujung Provinsi Lampung dan berbatasan langsung dengan Provinsi Sumatera Selatan. Secara alamiah, kabupaten berjuluk Bumi Ramik Ragom ini dilalui lima sungai besar, yakni Way Umpu, Way Besay, Way Giham, Way Tahmi, dan Way Pisang. Kelimanya bergabung di hilir menjadi Sungai Way Kanan. Way dalam Bahasa Lampung berarti sungai. Sementara itu, berdasarkan sejarah pertumbuhan peradaban dan kebudayaan rumpun Melayu Sumatera, komunitas hunian di tepi Sungai Way Kanan memakai bahasa Lampung yang berakhiran “a”.
Di sisi lain, suku Way Kanan merupakan komunitas marga yang terdiri dari lima submarga, dalam bahasa lokal disebut buay. Suku Lampung di Way Kanan terdiri dari lima kebuayan, yakni Buay Pemuka, Buay Semenguk, Buay Bahuga, Buay Baradatu, dan Buay Barasakti.

Pancing



Aliran Sungai Way Besay yang mengelilingi Kampung Gedungbatin merupakan habitat monster ikan air tawar yang langka yaitu ikan wallago lerii atau cat fish. Masyarakat setempat mengenal ikan tersebut dengan sebutan ikan tapah, sejenis ikan berkumis seperti ikan lele. Warga setempat bahkan pernah mendapatkan ikan tersebut dengan berat hingga 160 kg. "Potensi Wisata ini dikenal dengan sebutan fishing extreme bagi pemancing mania,” ujar Harun.
Selain itu, sungai ini memiliki arus yang cukup deras dengan didasari oleh bebatuan ukuran sedang dan besar, sehingga dapat dimanfaatkan untuk beragam kelas dalam arung jeram (jeram grade) seperti river tubing dan bamboo rafting.
"Bagi penggemar wisata mancing mania, arung jeram, river tubing, dan bamboo rafting, silakan mencoba sensasi wisata di Kampung Gedungbatin." 

Sejumlah pemandangan kampung adat yang asri dan permainan alam disuguhkan di tempat wisata Kampung Gedungbatin, Way Kanan, Provinsi Lampung.  LAMPUNG POST/CANDRA PUTRA

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR