MENGGALA (Lampost.co) -- Faktor ekonomi lagi-lagi menjadi pemicu retaknya hubungan rumah tangga masyarakat di Kabupaten Tulangbawang. Dari data Pengadilan Agama setempat hingga akhir April tahun ini, lebih dari 100 perkara masuk ke meja Pengadilan Agama setempat mengajukan perceraian.

Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Kabupaten Tulangbawang Rahmiyati mengatakan hingga bulan April 2019, tercatat 178 perkara pengajuan percerain masuk.
Bahkan, jumlah tersebut kian meningkat dari bulan ke bulan.



Rahmiyati memaparkan di Januari 2019 jumlah pengajuan perceraian yang masuk berjumlah 40 perkara, Februari meningkat menjadi 42 perkara. Kemudian pada Maret tercatat 43 perkara masuk dan April melonjak menjadi 53 perkara masuk mengajukan perceraian.

"Sekitar 80 persen alasan perceraiannya, karena faktor ekonomi. Kemudian alasan lainnya, karena masalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan adanya orang ketiga dalam rumah tangga," kata Rahmi, ditemui di ruang kerjanya, Rabu (8/5/2019).

Perempuan, kata Rahmi, menjadi salah satu penyumbang perkara perceraian yang masuk di pengadilan agama setempat. Selain itu, rata-rata usia yang mengajukan perceraian masih produktif. "60 persen banding 40 persen lah. 60 persennya perempuan yang mengajukan cerai. Kalau usia rata-rata 30 hingga 35 tahun," ujarnya.

 

BERITA LAINNYA


EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR