BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Kasus penyerobotan tanah di Desa Mandah, Natar, Lampung Selatan, dengan terlapor Kades Mandah, Sutrisno semakin menarik. Aparat desa diduga  telah merampas sepeda motor milik Sriyanto, yaitu anak menantu Wakidi, pemilik lahan yang dicaplok kades dengan dalih lahan itu untuk badan usaha milik desa (Bumdeds). Kasus ini telah ditangani Polsek Natar, dan sepeda motor yang semula diamankan di balai desa kini barada di Polsek Natar.

Dugaan perampasan sepeda motor Suzuki Smash warna Hitam BE-6497-EO atas nama Sriyanto terjadi setelah peristiwa perselisihan paham antara kuasa hukum Wakikidi yaitu D Chandra dengan Kades Sutrisno.
Menurut kuasa hukum pelapor (D.Chandra) pada Minggu (24/6) sekitar pukul 13.00, kuasa hukum bersama Wakidi mengantar batu untuk pondasi di lokasi Bumdes Mandah. Tabah tersebut merupakan milik Wakiki yang dibeli pada tahun 1974 dari Musaik. Hal itu dibuktikan dengan surat jual beli pada tahun 1974.
Pada saat truk selesai menurunkan batu,  tiba tiba datang seseorang yang mengaku sebagai Kadus. Kemudian orang itu dengan nada tinggi memanggil warga. Tak berselang lama datang Kades Sutrisno marah marah sambil mengeluarkan kata kata kasar ‘LBH tai kucing’. Mendengar itu kuasa hukum menanyakan apa dasaranya Sutrisno membangun Bumdes diatas tanah milik kliennya (Wakidi).  Dijawabnya “Ini wilayah kekuasaan saya,” ujar Sutrisno tanpa menunjukkan dasar kepemilikan lahan Bumdes. Kemudian datang Sekdes Yuldi Ismail, juga mengeluarkan amarahnya dengan kata kata penuh penghinaan dan mengamuk seperti orang kesurupan, mengancam tim kuasa hukum dan juga berusaha memukul wartawan yang berada di lokasi itu. “Sudah nggak mempan golok apa berani berani masuk wilayah saya,” ujar Yuldi yang ditirukan kuasa hukum.
Karena tak ingin debat kusir, kuasa hukum dan Wakidi meninggalkan lokasi tersebut. Kemudian Sriyanato menitipkan sepeda motornya kepada warga. Keesokan harinya, saat Sriyanto bersama saudaranya hendak mengambil motor tersebut, ternyata motor itu tidak boleh diambil oleh Yuldi Ismail. 
Pada Minggu (1/7/2018), karena tidak ada itikat baik mengembalikan sepeda motor, Sriyanto didampingi kuasa hukum melaporkan tentang perampasan motor ke Polsek Natar. Tetapi petugas di Polsek Natar menyarankan untuk mengedapankan musyawarah, sehingga laporan itu ditunda. 
Pada Senin (2/7) Kanitreskrim dan Kanitpatroli Polsek Natar berjanji mendampingi Siryanto hendak mengambil motor. Saat dikonfirmasi, Panitreskrim Polsek Natar, Aiptu Samto membenarkan sepeda motor itu diambilnya dari Desa Mandah dan dijadikan barang bukti atas tuduhan perusakan. “Bener mas, motor itu ada di polsek untuk barang bukti laporan kades tentang perusakan. Tapi kan nanti bisa dikembalikan kepada pemiliknya,” kata Samto melalui sambungan telepon.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR