GUNUNG SUGIH (Lampost.co)--Kurang masifnya sosialisasi ancaman hukuman terhadap predator anak diduga menjadi salah satu penyebab tingginya angka kasus pencabulan dengan korban anak di bawah umur di Lampung Tengah.

Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Lamteng mencatat ada 107 kasus pelecehan seksual dengan korban anak di bawah umur selama 2018. Sedangkan selama 2019, hingga 28 Januari, terdapat lima kasus pencabulan dengan korban anak di bawah umur.



Menurut Ketua LPA Lamteng Eko Yuwono, dari sisi aturan ancaman hukuman untuk pelaku pencabulan terhadap anak-anak bisa sampai 20 tahun penjara. Bahkan, jika pelaku adalah orang dekat, bisa sampai 25 tahun. Namun, ancaman ini belum tersosialisasi secara masif. Buktinya, 40% pelaku pada kasus-kasus yang muncul di Lampung Tengah tidak tahu ancaman tersebut.

"Kebanyakan tidak tahu ancamannya sangat berat. Kami perkirakan kurang masifnya sosialisasi tentang beratnya ancaman menjadi salah satu sebab," kata Eko menanggapi tingginya kasus pencabulan anak di Lamteng.

Terbaru, seorang kakek, warga Kampung Kusumajaya, Bekri, Lamteng, ditangkap jajaran Polsek Gunungsugih, Lamteng, karena diduga mencabuli keponakannya sendiri yang baru berusia 14 tahun. Tersangka Suherman alias Giman (62) ditangkap pada Sabtu (26/1/2019) setelah dilaporkan oleh keluarga korban.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR