JAKARTA (Lampost.co) -- Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan terus memantau dan melakukan koordinasi dengan Kantor Otoritas Bandar Udara (OBU) di wilayah Kalimantan dan Sumatera yang terkena dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengurangi jarak pandang penerbangan.

Dirjen Perhubungan Udara Polana B Pramesti mengatakan, pihaknya juga melakukan koordinasi dengan AirNav Indonesia dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta pihak lain untuk menindaklanjuti sebaran asap karhutla di Indonesia.



Polana menegaskan, pihaknya telah meminta operator penerbangan,  terutama yang menutup pelayanan penerbangan ataupun terdampak delay akibat karhutla, untuk sigap membantu mengkomunikasikannya kepada para penumpang dan memberikan pelayanan sesuai aturan yang berlaku.

Untuk itu, Polana meminta pengguna jasa transportasi udara agar dapat memahami kondisi saat ini.

“Kami meminta kepada pengguna jasa transportasi udara untuk bersabar, karena keselamatan merupakan prioritas utama,” kata Polana dalam keterangan resmi.

Sementara itu, pekatnya kabut asap akibat Karhutla melumpuhkan operasional penerbangan di Bandar Udara Kalimarau, Berau, Kalimantan Timur.

 

Kepala Bandar Udara Kalimarau Bambang Hartato mengatakan, setelah mendapatkan Note To Air Man (Notam) yang dikeluarkan AirNav Indonesia Nomor C8334/19, dengan isi perubahan jarak pandang bandar udara, layanan penerbangan ditutup.

"Sampai hari ini, visibility (jarak pandang) 500 meter, sementara standar instrument aproach procedure (instrumen pendaratan) itu minimal, jarak pandangnya 3. 500 meter," kata Bambang.

Awalnya, sejumlah maskapai menunggu kondisi cuaca membaik. Beberapa penerbangan seperti Garuda Indonesia, Sriwijaya Air dan Express Air mengalami delay.

“Kami sampaikan permohonan maaf kepada pengguna jasa transportasi udara, kami harap masyarakat bisa memaklumi kondisi ini,” ucapnya

Kondisi saat ini, beberapa bandara operasional yang di tutup antara lain bandara Kalimarau Berau, Bandara Juwata Tarakan, Bandara APT Pranoto Samarinda dan Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin. 

EDITOR

Setiaji Bintang Pamungkas

TAGS


KOMENTAR