SEBULAN terakhir, negeri ini benar-benar diterjang bencana hebat. Mulai dari gempa bumi, angin puting beliung, longsor hingga banjir di mana-mana yang menelan korban jiwa. Adalah di Lampung, tujuh orang tewas terseret banjir di kawasan Lampung Tengah. Selama empat hari, banjir mengepung provinsi di ujung Pulau Sumatera ini.

Banjir yang membawa korban jiwa itu datang disebabkan banyak faktor, antara lain penggundulan hutan, penataan drainase yang kurang sempurna, serta mitigasi bencana yang minim dipahami rakyat. Parahnya, pemerintah menutup mata akibat bencana tersebut. Rakyat terlunta-lunta mencari bantuan dan pertolongan untuk menyelamatkan nyawanya.         



Untunglah masih ada Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang memberi peringatan dini  agar manusia mewaspadai banjir karena curah hujan yang sangat tinggi. Banjir sudah menerjang, bantuan tidak datang jua. Sungguh tragis rakyat Lampung Tengah, Selatan, dan Timur! Mengharap tanggap darurat, air bersih untuk minum pun tidak datang.    

Di Lampung Selatan, warga tiga dusun di Desa Sidoharjo, Kecamatan Way Panji, kondisinya memprihatinkan. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, mereka terpaksa merogoh kocek untuk membeli air bersih karena sumur  sebagai sumber air minum dipenuhi lumpur. Jujur disampaikan warga di desa itu tidak setetes pun air bersih disalurkan pemerintah.

Tidak hanya di Lampung Selatan, Lampung Tengah dan Lampung Timur juga lambat mengantisipasi. Padahal setiap tahun, mau tidak mau pemerintah daerah harus mengalokasikan dana tanggap darurat bencana. Mengapa? Karena Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sudah memberikan peringatan dini –memetakan kawasan rawan bencana.

Itu artinya kepala daerah harus mengalokasikan dana dalam APBD  untuk berjaga-jaga kalau bencana datang tiba-tiba. Negeri ini, daerah ini sangat rentan bencana. Anak bangsa harus memiliki kepekaan meski tanda alam itu telah banyak muncul terutama hujan deras yang berlangsung lama. Janganlah jadi bangsa yang bodoh, yang tidak mengerti bencana alam.  

Bencana alam yang menerjang negeri ini kian menguatkan bukti bahwa lingkungan sudah tidak bersahabat lagi, dan posisinya sangat kritis. Ketika datang perubahan iklim, dampaknya sangat menyengsarakan rakyat. Pelajaran yang sangat berharga  ketika Bumi Aceh diluluhlantakkan  gempa bumi dan tsunami.  

Negeri ini tertatih-tatih menanggulanginya. Luar negeri berduyun-duyun membantu memulihkannya. Sejak itu, anak bangsa belajar mitigasi yang ditempuh untuk meminimalkan korban ketika bencana datang. Akan tetapi, belakangan ini  perubahan iklim tidak bisa dihindari. Seperti naiknya permukaan air laut–banjir rob di berbagai kawasan di negeri ini. 

***

Mengutip Ayu Utami, dalam novelnya Bilangan Fu (KPG, Jakarta, 2008, 500 halaman) mengkritisi pandangan agama— teologi monoteisme yang menjerumuskan dunia dalam bencana. Lingkungan hidup dijadikan objek dieksploitasi. Monoteisme ditengarai mengajarkan manusia memperbaiki akhirat, akan tetapi dengan merusak bumi atau lingkungan hidup.

Novel Ayu mengapresiasi ajaran agama-agama tradisional yang animistis terbukti mampu menjaga dan melestarikan alam ini. Ada hubungan atau tidak, Jepang adalah contoh negara yang nyata. Warganya tunduk dan diberikan pengetahuan tentang keakraban dengan alam. Rakyat tidak panik ketika datang gempa bumi yang mengguncang negari Matahari Terbit.

Bahkan, rumah tempat tinggal mereka dibangun dengan konstruksi tahan gempa. Maka itu, Jepang menjadikan bencana sebagai anugerah agar rakyatnya hidup bersinergi dengan alam. Jika akrab dengan bencana, risiko jatuhnya korban bisa dielakkan karena warga sadar bagaimana menghadapi bencana. Negeri ini kian rapuh dilanda bencana banjir karena perbuatan manusia, curah hujan, dan perubahan iklim tadi.

Dan sepuluh tahun silam, Jon, vokalis grup musik rock  Bon Jovi  ketika tampil dalam konser Live Earth di Mumbai, India, mengingatkanmakin banyak orang kehilangan tempat tinggal—menjadi gelandangan lantaran korban bencana alam. Negeri Indira Gandhi saat itu disorot Bon Jovi karena menyumbangkan emisi karbon di atmosfer yang merusak iklim bumi ini.

Bahkan, Prof. Ronald W. Perry (2007) dalam bukunya berjudul: Emergency Planning, mengungkapkan penanggulangan bencana hanya akan efektif kalau sinergi dari tiga elemen penting (pengelolaan bencana, kebijakan publik, dan pelaksanaan penanggulangan bencana dalam koridor yurisdiksi tiap lembaga) dapat diwujudkan. Tanpa harus menunggu komando.

Adalah pendidikan mitigasi bencana wujud dari penanggulangan yang sangat penting. Negeri ini harus belajar dari Jepang. Indonesia perlu modal sosial untuk meminimalkan korban yang berjatuhan. Tidak salah jika negara membentuk kampung siap bencana (KSB) yang digadang oleh Kementerian Sosial. Maksudnya agar masyarakat dapat mengantisipasi bencana dengan memanfaatkan sumber daya alam.

Sungguh elok program KSB apalagi melibatkan BNPB dan taruna siaga bencana. Jika ada bencana alam, tidak lagi membuat rakyat bingung. Di situ hadir—siap siaga pejuang kemanusiaan. Relawan tidak lagi diundang—justru datang sendiri dengan membawa peralatan dan bantuan untuk korban bencana alam. Tidak seperti warga yang diterjang banjir di Lampung, pekan ini, yang berhari-hari menunggu uluran tangan.  ***

 

loading...

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR