LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 8 June
5869

Tags

LAMPUNG POST | Kami Masih Optimistis Semua Kembali Normal (Habis)
Pintu gerbang pabrik CPO PT LIP (BSMI) di Pancajaya, Mesuji, yang hanya 10 hari sekali beroperasi akibat konflik yang tak kunjung usai dengan warga. Foto dibidik Selasa (30/5/2017. Lampung Post/Juan Santoso Situmeang

Kami Masih Optimistis Semua Kembali Normal (Habis)

OPTIMISME itu makin besar, dengan terpilihnya kembali Pak Khamami sebagai bupati Mesuji periode kedua 2017—2022. “Saya sangat optimistis, apalagi dengan terpilihnya kembali Pak Khamamik sebagai bupati periode kedua ini,” ujar Humas PT BSMI, Benny.
Ia juga berharap pihak semua pihak terkait mulai dari pemda, Pemprov, DPRD, serta aparat keamanan, terlebih masyarakat di desa sekitar perusahaan bisa duduk bersama dengan perusahaan guna penyelesaian konflik yang sudah terjadi.
Ia mengatakan hingga saat ini pihak perusahaan masih tetap menggaji karyawan yang sementara masih dirumahkan. “Ini wujud tanggung jawab kami terhadap karyawan. Kami masih memberi gaji pokok mereka,” kata dia.
Mengenai kondisi terkini di lokasi pabrik dan kebun, Beny mengatakan bahwa saat ini memang tetap masih banyak pencurian tandan buah segar (TBS) kelapa sawit milik kebun PT BSMI. “Ya mau gimana, ini kondisi
sekarang.”
Jika dihitung persentase, kondisi perusahaan saat ini masih 30% berjalan. Hal itu karena luas kebun 17 ribu ha, baru 30% yang dikuasai kembali. Jadi, dalam satu hari, TBS yang masuk ke pabrik hanya maksimal 12 ton.

Dengan kondisi itu, pihaknya baru bisa melakukan giling 10 hari sekali. “Jadi ya seperti itu kondisinya, hasil CPO untuk operasional saja tidak cukup, tetapi kami lagi-lagi harus tetap optimistis,” ujarnya.
Dampak dari mati suri PT BSMI juga terlihat jelas di desa-desa sekitar perkebunan tersebut. Salah satunya, di Dusun Sumberbening, yang berdekatan langsung dengan perkebunan. Di dusun tersebut, biasa dilakukan transaksi jual beli di tanah lapang dekat sebuah sekolah dasar. Biasanya, di lokasi yang menjadi pasar kaget itu tiap pekan pasti ada keramaian jual beli.
Seperti yang dituturkan Sumiarti (49), warga Dusun Sumberbening, Desa Fajarbaru. Ia masih mengingat bisingnya pasar kaget tersebut. “Kalau tiap PT gajian, saya jualan sayur. Lumayanlah. Namun, sekarang saya cuma bisa mengingat saja.”
Saat ini, tanah lapang dengan luas hampir selapangan bola yang menjadi pasar kaget itu, kini hanya menjadi belukar. Adapun lapak-lapak sebagaian sudah reot bahkan sebagian roboh. Sumiarti sebagaimana harapan semua warga desa tersebut ingin agar situasi kembali normal.
“Ya, kami ingin seperti dulu, mudah-mudahan secepatnya. Jadi semua orang masih bisa belanja, masih ada uang yang berputar di sini, tidak seperti sekarang, seperti desa mati,” ujarnya. 

LAMPUNG POST
TRANSLATE
  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv